bahasa Inggris di SD,bisa baca artikel yang kubuat
berdasarkan telaah sumber2 dan referensi yang aku baca dan liyat...
GOOD LUCK...
PENDAHULUAN
Sejarah pendidikan dasar di Indonesia menunjukkan bahwa bukan baru di tahun sembilan puluhan, bahasa asing di ajarkan. Sebelum Perang Dunia II di jaman penjajahan Belanda, di sekolah-sekolah HIS yang sederajat dengan SD, mulai kelas-3 diajarkan bahasa Belanda secara intensif (Sadtono, 1988 : 27). Di Jaman pendudukan Jepang, sejak kelas 2 Sekolah Rakyat, siswa harus belajar bahasa Jepang melalui aksara Katakana dan Hirakana. Baru di kelas 4 diajarkan aksara Kanji. Secara jujur harus pula dikatakan bahwa siswa Sekolah Rakyat yang belajar bahasa Jepang itu, dapat berbahasa Jepang dengan baik (Lambut 1988 : 36). Semua itu menunjukkan bahwa pelajaran bahasa asing di masa lalu, tidak menimbulkan masalah yang buruk bagi pembelajaran bahasa.
Di Zaman era globalisasi ini, bahasa asing sangatlah penting dalam kehidupan pembangunan negara kita, khususnya bahasa Inggris yang digunakan negara-negara dunia untuk berkomunikasi. Dengan bahasa Inggris, orang-orang dengan mudah masuk dan dapat mengakses dunia informasi dan teknologi. Selain itu, kesempatan lebih terbuka untuk mengembangkan diri guna memperoleh kesempatan yang lebih baik menghadapi persaingan lapangan kerja dan karir di masa yang akan datang. olehnya sangatlah penting bagi kita sebagai warga negara untuk belajar bahasa Inggris.
Psikologi pendidikan dan perkembangan menjelaskan kedudukan pendidikan dasar dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian anak yang menjalani pendidikan persekolahan tingkat dasar. Pendidikan persekolahan tingkat dasar inilah yang meletakkan dasar perilaku bersekolah selanjutnya (Ki Sarino M, 1982 : 75).
Oleh karenanya dikeluarkanlah SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris di sebagai mata pelajaran muatan lokal SD, dan dapat dimulai pada kelas 4 SD (Http:www.depdiknas.go.id /selayangpandangpenyelenggaraan pendidikannasional), dimana kebijakan ini ditanggapi positif oleh masyarakat luas. Namun pada kenyataannya banyak kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam pelaksanaannya yang membuat tujuan pembelajaran bahasa Inggris itu tidak tercapai.
MANFAAT PENULISAN
Karya tulis ini disusun untuk memberikan gambaran tentang pengaplikasian pengajaran bahasa Inggris di Indonesia pada tingkat Sekolah Dasar dari segala aspek sebagai satu usaha akademis untuk bisa mendekati permasalahan pengajaran bahasa Inggris dan sekaligus memberikan saran-saran yang bersifat tentative dalam menghadapi kenyataan-kenyataan di lapangan.
METODE PENULISAN
Tulisan ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan yaitu dengan mencari bahan-bahan yang relevan baik berupa buku, jurnal maupun tulisan-tulisannya. Untuk lebih up to date, penulis juga menggunakan bahan rujukan yang bersumber dari internet.
TUJUAN PENULISAN
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi mengenai pengaplikasian pengajaran bahasa Inggris di Indonesia pada tingkatan Sekolah Dasar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Landasan Teori
Penelitian yang diadakan Chandra (____) dengan judul Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar menyimpulkan bahwa hasil belajar bahasa Inggris di Sekolah Dasar tidak bisa dinilai, karena tidak tidak bisa ditentukan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian Suyanto, Kasihani dalam pidatonya yang berjudul Pengajaran Bahasa Inggis diSekolah Dasar mengungkapkan ada banyak permasalahan yang terjadi dalam pengaplikasian pengajaran bahasa inggris di sekolah yakni:
Pertama,bahan ajar bahasa Inggris untuk SD tidak banyak yang memenuhi syarat untuk dipakai sebagai buku pegangan siswa dikelas; Kedua, sebagian besar guru yang mengajar bahasa Inggris di SD belum memiliki kemampuan dan keterampilan berbahasa Inggris yang memadai untuk berperan sebagai guru bahasa asing di sekolah dasar karena sebagian besar (+ 80%) mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris; Ketiga,, belum tersedia silabus bahasa Inggris untuk SD yang dilengkapi dengan bahan ajar, petunjuk guru, dan medianya; keempat, belum meratanya matakuliah English for Young Learners di Programprogram Pendidikan Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi. Untuk standar minimal perlu ada pertemuan nasional merekonstruksi matakuliah tersebut.
Pembahasan
1. Kebijakan dan Dasar Pemikiran EYL
Alexei A. Leontiev dalam bukunya Psychology and the Language Learning Process (1989) mengemukakan mengenai belajar bahasa pada masa kanak-kanak bahwa “Language learning in an early age of a child (6 – 12 years old) has a deceptive effect. His language development will be greatly affected by his experience in learning the language. When he has undergone the right track of learning his language acquisition will develop smoothly (Leontiev, 1989 : 211).
tanggal 25 Februari 1993, SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 dikeluarkan yang isinya tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal SD, dan dapat dimulai pada kelas 4 SD. Kebijakan ini telah ditanggapi secara positif dan luas oleh masyarakat dan sekolah-sekolah dasar yang merasa memerlukan dan mampu untuk menyelenggarakan pengajaran bahasa Inggris. Dalam perjalanan pengembangannya, bahasa Inggris yang semula sebagai matapelajaran muatan lokal pilihan menjadi matapelajaran muatan lokal wajib di beberapa daerah.
2. Model dan Materi Pengajaran
Materi pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar haruslah bersifat gembira dan interaktif. Oleh sebab itu materi dan metode yang diberikan harus sesuai dengan perkembangan siswa. Para guru mengatakan bahwa mereka bisa menggunakan lagu, teka teki, permainan dan gambar yang menarik selama proses belajar mengajar tersebut.
Dalam model Piaget (dalam Orlich et.al.,1998) dikenal adanya empat tahap perkembangan yaitu sensorimotor stage, (lahir sampai usia 2 tahun); preoperational stage (2–8 tahun); concrete operational stage (8–11 tahun); dan formal stage (11–15 tahun keatas). Jadi, apabila anak SD belajar bahasa mulai kelas 3 atau 4 mereka sedang dalam tahap concrete operational stage dan oleh karena itu mereka memerlukan banyak ilustrasi, model, gambar, dan kegiatan-kegiatan lain.buku teks, lembar kegiatan siswa (LKS), buku ceritera, kaset rekaman dialog, brosur, gambar, poster atau benda-benda nyata lainnya.
buku pelajaran siswa seharusnya penuh warna agar menjadi menarik perhatian dan motivasi siswa itu sendiri. (Greene dan Petty:1967 dalam Lystia:2008) sangat mendukung pendapat ini. Mereka mengatakan bahwa gambar yang berwarna dan interaktif membuat siswa menjadi tertarik dan penasaran sehingga menambah motivasi mereka untuk mempelajari bahan selanjutnya. Ditambahkan pula bahwa siswa akan lebih mudah untuk menghafal kosa kata ketika mereka melihat sesuatu yang menarik. Menurut pendapat (Frost:1967 dalam Lystia:2008) bahwa mental pembelajar muda akan sangat tertarik ketika melihat objek yang sebenarnya. Objek itupun akan sangat membantu untuk mengembangkan imajinasi mereka.Dimana tujuan pembelajaran bahasa haruslah menekankan pada seluruh kemampuan bahasa tersebut. Pembelajaran menulis, membaca, berbicara, dan menyimak haruslah diajarkan secara terpadu.
3. Pelaksanaan Pengajaran Bahasa Inggris di SD
Kurikulum Bahasa Inggris sebagai muatan lokal yang ada bila benar-benar kita cermati masih banyak kelemahannya. Tujuan yang merupakan salah satu komponen penting pengajaran bahasa Inggris tidak sesuai untuk perkembangan anak usia 6–12 tahun. Sebagaimana yang telah digambarkan di atas seyogyanya bahasa Inggris diperkenalkan melalui kegiatan yang sesuai dengan kegiatan di dunia anak. Misalnya, belajar kosakata dan kalimat sederhana tentang apa yang ada di sekitarnya atau belajar sambil menggambar, menyanyi, bermain, dan berceritera. Namun kenyataan di lapangan sekarang anak-anak SD ditugaskan untuk menerjemahkan kalimat-kalimat yang sulit, mencatat tata bahasa dengan istilah yang tidak dimengerti oleh siswa, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang sering tidak jelas perintahnya sehingga ada jawaban yang rancu.
Fillmore (1991) yang dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa anak-anak yang berhasil dalam pemerolehan bahasa Inggris adalah mereka yang sering berinteraksi dengan orang-orang yang menguasai bahasa Inggris dengan baik. Dengan kata lain, guru harus menguasai bahasa Inggris dan pembelajaran bahasa namun yang terjadi sekarang ini adalah akibat kebijakan dari pemerintah, Guru ditugasi kepala sekolah untuk mengajar bahasa Inggris sedangkan dia tidak mempunyai latar belakang pendidikan bahasa Inggris. Akibatnya Guru harus menggunakan bahan ajar darurat yang kesesuaian dan kemanfaatannuya tidak bisa dipastikan disamping buku ajar yang tidak tersedia.
Gebhard:1996 dalam suyanto:1997) menyatakan bahwa kebanyakan pelajaran bahasa Inggris diarahkan agar siswa dapat menganalisis dan memahami bahasa Inggris sehingga mereka dapat lulus ujian. Kenyataannya adalah tidak ada atau sedikit sekali kesempatan bagi siswa untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dalam situasi yang komunikatif di luar sekolah. Pada umumnya kelas bahasa Inggris di Indonesia lebih banyak menekankan pada“learning about English” bukan “learning how to use English”.
4. Beberapa Masalah dalam Pengajaran Bahasa Inggris di SD
Beberapa temuan penting yang dapat direkam selama penelitian dan kegiatan sosialisasi (Suyanto, K.E) antara lain adalah sebagai berikut.
a. Pronunciation: Banyak ucapan yang tidak benar dan bahkan dapat berarti lain. Padahal ketika seorang guru sedang mengajar di kelas, sebagai model, memberi contoh dan ditirukan siswanya
- Banyak guru tidak dapat membedakan antara bunyi | d | dan | t |, [fu:d]: food diucapkan
[fut]: foot.
- Huruf c dengan bunyi | k | electric dengan bunyi | s | pada electricity.
- It is a cucumber, karena c dibunyikan dalam bahasa Indonesia maka jadilah
bahasa Inggris: It is a [cucumb_r]. Yang seharusnya cucumber [kyuk_mbc] dan knife [n_if]
( seorang guru yang sedang memperkenalkan alat-alat dapur di sebuah kelas bahasa Inggris di sebuah kota kecamatan).
b. Struktur bahasa: Banyak guru yang sangat kurang penguasaan bahasa Inggrisnya, termasuk tata bahasa yang minimal harus dikuasai oleh seorang guru yakni bahasa Inggris dasar
- Bentuk kata benda tunggal dan jamak: many book, seharusnya books. The student go, seharusnya goes. She cooking; dsb.
- Banyak peserta pelatihan yang tidak dapat membedakan penggunaan much vs many, he vs she, go vs come dan sebagainya.
c. Keterampilan teknis: Ternyata banyak guru yang tidak tahu:
- bagaimana memegang flash cards yang benar sehingga seluruh siswa dapat melihat dengan jelas;
- bagaimana mengajarkan nyanyian sehingga dalam waktu singkat (kurang dari 10 menit) siswa sudah dapat menyanyikan lagu yang kata-katanya ada hubungannya dengan bahan pelajaran mereka
- bagaimana menyajikan suatu ceritera atau dongeng secara menarik dengan menggunakan puppets kepada siswa;
- bagaimana memberi contoh atau menjadi model untuk ucapan dan melakukan action verbs.
d. Pemilihan dan pengembangan bahan: Sebagian besar guru menggunakan bahan ajar dengan hanya mengikuti urutan yang ada di buku. Mereka sering mengatakan kehabisan bahan sebelum tahun ajaran berakhir. Hal itu berarti guru masih kurang terampil memilih, mengadaptasi, dan mengembangkan materi disesuaikan dengan kebutuhan siswanya. Bahan ajar perlu dikembangkan, ditambah bila kurang, diganti bila tidak sesuai, direvisi bila tidak benar dan diperbarui bila sudah tidak ada di lapangan. Bahan ajar dan kegiatan di kelas seharusnya dihubungkan dengan kehidupan dan pengalaman nyata anak-anak.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di Zaman era globalisasi ini, bahasa asing sangatlah penting dalam kehidupan pembangunan negara kita, khususnya bahasa Inggris yang digunakan negara-negara dunia untuk berkomunikasi. Dengan bahasa Inggris, orang-orang dengan mudah masuk dan dapat mengakses dunia informasi dan teknologi. Selain itu, kesempatan lebih terbuka untuk mengembangkan diri guna memperoleh kesempatan yang lebih baik menghadapi persaingan lapangan kerja dan karir di masa yang akan datang. olehnya sangatlah penting bagi kita sebagai warga negara untuk belajar bahasa Inggris.
Dikeluarkanlah SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris di sebagai mata pelajaran muatan lokal SD, dan dapat dimulai pada kelas 4 SD, dimana kebijakan ini ditanggapi positif oleh masyarakat luas
Namun Permintaan masyarakat, yaitu orang tua murid yang minta agar anaknya juga belajar bahasa Inggris seperti yang ada di sekolah lain sebenarnya bukan alasan yang kuat. Selain itu, juga adanya “perintah” atau keputusan dari Dinas Pendidikan setempat yang mewajibkan sekolah untuk memberikan pelajaran bahasa Inggris sebagai pelajaran muatan lokal wajib.
Kenyataan yang ada pada saat kebijakan diberlakukan para pembuat kebijakan terkesan kurang atau tidak melakukan analisis kebutuhan secara cermat sebelumnya. Apakah tenaga di lapangan sudah siap? Apakah kurikulum/silabus sudah ada? Yang jelas walaupun disebutkan bahwa bahasa Inggris di sekolah dasar, mata pelajaran bahasa Inggris bukan merupakan matapelajaran wajib dan dapat diajarkan bila memang dibutuhkan dan tersedia tenaga pengajar, banyak sekolah yang memaksakan diri untuk melaksanakan program ini. Akibatnya Guru harus menggunakan bahan ajar darurat yang kesesuaian dan kemanfaatannuya tidak bisa dipastikan disamping buku ajar yang tidak tersedia.
B. Saran:
Dengan memperhatikan uraian tadi, seyogyanya timbul kesadaran bahwa pendidikan dasar yang diberikan di Sekolah Dasar mempunyai peranan yang sangat penting untuk pendidikan yang lebih lanjut. Peletakan dasar yang kuat dalam dasar-dasar pengembangan kemampuan belajar akan memungkinkan siswa mencapai tingkat kemampuan belajar yang baik dan efisien.
Pengajaran bahasa Inggris yang hasil belajarnya sangat berguna bagi kehidupan masa kini dan masa mendatang, hendaknya mendorong penyediaan tenaga pengajar, buku ajar, strategi belajar-mengajar dan kegiatan belajar-mengajar dan kegiatan belajar-mengajar yang memberikan rasa nyaman dan bukan rasa tertekan dan terpaksa.
No comments:
Post a Comment