Diusiaku yang menginjak 26 tahun aku belum berencana menikah sebenarnya tapi seseorang datang melamar (dialah yang menjadi suamiku sekarang). Akupun belum berniat memiliki momongan dalam satu tahun terakhir pernikahan kami karena aku masih sibuk dengan karir dan kuliahku di pascasarjana Universitas Muslim Indonesia. Namun Tuhan berkehendak lain, di usia pernikahan yang menginjak usia sekitar 4 bulan (menurut perkiraanku) uhan menitipkan karuniaNya sebuah jabang bayi di rahimku. Alhamdulillah kupanjatkan padaNYa karena banyak pasangan yang setelah berpuluh puluh tahun lamanya tidak pun dikaruniai dan dipercayakan seorang anak.
Alhasil aku pun tidak pernah mencatat dan memperhatikan tanggal haidku tiap bulan.
Saat itu aku telat haid sekitar sebulan, ssahibku memaksakan diri membelikanku tespek kehamilan di apotik. pertama mencoba tidak berhasil,maklum aku belum pernah kenal dan mempergunakan alat itu. kedua kalinya aku memberanikan diri untuk membelinya sendiri di apotik guna mengobati rasa penasaranku, alhasil positif hamil.
Akhir bulan November 2014, akupun ke dokter kandungan dan memeriksa kehamilanku dan memperkuat hasil tespek kemarin. namun meleset dari dugaanku yang mengatakan bahwa usia kandunganku sekitar 6 minggu namun dokter mengatakan usianya sudah 8 minggu. Disitulah awal dari rancunya perhitungan usia kehamilanku akibat aku tidak mengetahui pasti taggal haid terakhitku.
Hari demi hari kulalui sampai menginjak usia berbulan-bulan aku tidak merasakan yang namanya ngidam dan mual-mual, namun penyakit lain muncul yaitu gatal di usia sekitar 5 bulan kehamilan dan kaki bengkak di usia sekitar 7 bulan kehamilan (menurut perkiraanku).
Sambil menjalani kehamilan akupun bolak balik Makassar Bulukumba untuk penyelesaian studyku hingga aku berhasil ujian tutup dan wisuda di tanggal 18 April 2016. Di sela-sela kesibukan kuliah, akupun tak lupa sembari cek up dan mengontrol kondisi kandungan di dokter makassar dan bidan di Bulukumba sambil menjalankan rutinitas kantor yang tak kalah sibuknya dari Senin pagi hingga Jumat malam.
Kini tibalah aku berkonsentasi untuk kelahiran bayiku, dan akupun mengambil cuti di kantor terhitung tanggal 15 Juni sampai 14 September, karena dokter memprediksi anakku lahir sekitar awal Juni sampai akhir Juli.
Sekarang sudah tanggal 30 Juni, tak ada sedikit tanda-tamdapun tentang persalinanku, belum ada tanda perut sakit dan keluar darah.
Aku, suami dan keluarga cemas, kami selalu berusaha mengupayakan yang terbaik meski harus ditebus mahal. aku ke dokter Niar (langgananku), dia mengatakan usia sudah 39 minggu dan air ketuban sudah mulai berkurang. si dokter pun menyarankan aku masuk kliniknya untuk diinduksi dan diberi rangsangan yang kata orang-orang itu sangat sakit.
2 hari lamanya aku berkonsultasi sam keluarga dan sebagian besar menyarankan aku untuk mengikuti saran dokter Niar untuk induksi. tapi aku berpikiran lain, akupun segera usg kembali ke dokter Risal dan alhasil pemeriksaan dpkter Risal membuatku sedikit lega karena mengatakan kondisi janin baik-baik saja dengan ketersediaan air ketuban masih cukup dimana usia bayi sekitar 37 minggu. jadi dokter mengatakan batas untuk lahir sekitar 17 juli 2015, klo lewat dari tu segera kembali ke dokter.
jawaban itu membuatku mengurungkan niat untuk dinduksi,dan sedikit santai dirumah. namun hari demi har, pertanyaan teman-teman di bbm semakin mengusikku tentang dugaan keterlambatan melahirkan. aku semakin takut dan semakin gundah. sampai sekarang belum ada tanda-tanda.
Aku hanya memohon pada Sang Kuasa memberi kuasa dan keajaibanNya di bulan suci Romadhon ini, ini adalah persalinan pertamaku semoga semuanya baik-baik saja, aku bisa segera melahirkan normal dengan kondisi sehat. Amin..
Dan aku tak lupa mengingatkan kepadapasangan muda khususnya wanita untuk selalu mengingat tanggal haidnya agar kejadiannya tak seperti ini. semoga tulisan ini bermanfaat buat para blogger

No comments:
Post a Comment