MANAJEMEN
STRATEGI
a.
Proses
Pengendalian Strategi
Pengendalian Organisasi Pengendalian organisasi terdiri dari
tiga jenis, yaitu pengendalian strategis, pengendalian manajemen dan
pengendalian operasional. Pengendalian strategis merupakan proses dari evaluasi
strategi, yang dilakukan baik strategi tersebut dirumuskan dan setelah
diimplementasikan. Pengendalian manajemen berfokus pada pencapaian sasaran dari
berbagai substrategi bersesuaian dengan strategi utama dan pencapaian sasaran
dari rencana jangka menengah. Sedangkan pengendalian operasional berpusat pada
kinerja individu dan kelompok yang dibandingkan dengan peran individu dan
kelompok yang telah ditentukan oleh rencana organisasi. Masing-masing jenis
pengendalian tersebut tidak terpisah dan tidak berbeda secara nyata serta dalam
kenyataan mungkin tidak berbeda satu dengan yang lainnya.
Pengendalian strategi menurut Schendel and Hofer berfokus
pada dua pertanyaan (1) apakah strategi yang diimplementasikan sebagai yang
direncanakan dan (2) apakah hasil yang dibuat oleh strategi merupakan yang
diharapkan. Definisi ini merujuk pada kajian tradisional dan langkah umpan
balik yang merupakan langkah akhir dari proses manajemen strategis. Model normatif
dari proses manajemen strategis yang menggambarkan langkah-langkah utama
tersebut mencakup perumusan strategi, implentasi strategi dan evaluasi
(pengendalian) strategi.
Ukuran yang besar pada organisasi ada
kaitannya dengan hubungan ekonomis. Pertumbuhan yang makin besar sangat
diinginkan karena dengan makin meningkatnya besaran organisasi maka berdampak
pada skala ekonomi (economic of scale). Makin besar organisasi
seringkali lebih efisien dalam operasional organisasi tersebut.
Pengendalian strategi berpijak terutama pada proses
pengendalian tradisional yang melibatkan kajian dan umpan balik kinerja untuk
menentukan rencana, strategi dan sasaran yang telah dicapai dengan menghasilkan
informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah atau mengambil tindakan
korektif.
B.
Proses Pengendalian Operasional
Sistem pengendalian operasional merupakan pedoman untuk
melakukan evaluasi tujuan-tujuan jangka pendek, umumnya jangka waktu satu bulan
hingga satu tahun. Terdapat tiga sistem untuk pengendalian operasional yaitu
anggaran (budgets), jadwal (schedule), dan faktor penentu keberhasilan (key
success factors).
Kemampuan, keterbatasan, dan kebijakan produksi/operasional
dapat mendorong atau menghambat pencapaian tujuan secara signifikan. Proses
produksi biasanya bernilai 70 % dari total asset perusahaan. Bagian utama dari
proses pelaksanaan strategi terjadi dilokasi produksi. Keputusan-keputusan yang
terkait dengan produksi mengenai besarnya pabrik, letak pabrik, desain produk,
pilihan peralatan, jenis alat-alat, ontrol persediaan dan lain-lain.
Dalam pengendalian operasional perusahaan-perusahaan
berteknoligi tinggi, biaya produksi mungkin tidak sepenting fleksibilitas
produksi karena sering dibutuhkan perubahan produk yang besar. Dan mereka harus
mengandalkan system pengendalian operasional yang cukup fleksibel agar terjadi
perubahan berkali-kali dan pengenalan produk baru dengan cepat. Sebuah artikel
di Harvard Business Review menjelaskan mengapa beberapa organisasi mengalami
kesulitan :
Mereka terlalu lambat menyadari bahwa perubahan dalam
strategi produk mengubah tugas-tugas system produksi. Tugas-tugas tersebut,
yang dinyatakan dalam hal kebutuhan biaya, fleksibilitas produk, fleksibilitas
volume, kinerja produkndan konsistensi produk, menentukan kebijakan manufaktur
mana yang paling sesuai.
C.
Proses Pengendalian Kualitas
Kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen dalam
memilih suatu produk atau jasa, sehingga kualitas merupakan penentu
keberhasilan bisnis, pertumbuhan dan peningkatan posisi bersaing. Untuk
menjamin kualitas produk yang dihasilkan memenuhi syarat-syarat dari konsumen,
maka perlu dilakukan pengendalian kualitas. Ketika
hanya satu karakteristik output dipertimbangkan dalam pengendalian
kualitas, maka masalah dapat diselesaikan secara konvensional. Pengendalian
kualitas menjadi lebih kompleks ketika banyak karakteristik output yang
dipertimbangkan dan masing-masing harus memenuhi spesifikasi tertentu. Kompleksitas
pengendalian kualitas sebagai sebuah sistem seringkali menimbulkan konflik
diantara beberapa tujuan yang ingin dicapai. Peningkatan pencapaian pada salah
satu karakteristik mengakibatkan pengurangan pencapaian karakteristik yang
lain, sehingga diperlukan perancangan sistem pengendalian kualitas secara
simultan.
Perbaikan yang berkesinambungan pada produk untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan, memberikan keberhasilan usaha dan mengembalikan investasi
kepada para pemegang saham dan pemilik perusahaan.
Jenis-jenis pengendalian strategis
Pengendalian strategis (strategic control) merupakan usaha
manajemen untuk melacak suatu strategi saat dilaksanakan, mendeteksi
masalah-masalah atau perubahan-perubahan dalam asumsi dasarnya, dan membuat
penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Ada 4 (empat) jenis pengendalian strategis, yaitu :
a.
Pengendalian Premis (premise control), dirancang untuk
memeriksa secara sistematis dan terus-menerus apakah prinsip yang mendasari
strategi masih berlaku atau tidak.
b.
Pengamatan Strategis (stategic surveillance), dirancang untuk
memantau secara luas berbagai peristiwa di dalam dan luar perusahaan yang
mungkin sekali mempengaruhi jalan strateginya.
c.
Pengendalian berupa peringatan
khusus (special alert control),
adalah pemikiran kembali yang teliti, dan kebanyakan cepat dari strategi
perusahaan karena sebuah peristiwa yang mendadak dan tidak diharapkan.
d.
Pengendalian atas implementasi (implementation control), dirancang untuk
menilai apakah keseluruhan strategi harus diubah dengan mempertimbangkan
hasil-hasil yang berkaitan dengan tindakan-tindakan tambahan dalam keseluruhan
strategi. Dua jenis dasar pengendalian atas implementasi adalah :
· Pemantauan daya dorong
strategis (strategic thrusts)
· Pemeriksaan peristiwa
penting (milestone reviews)
Metode
Balanced Scorecard
Kartu skor berimbang (balanced scorecard) merupakan suatu
system manajemen (dan bukan sekadar sistem pengukuran) yang memungkinkan
perusahaan memperjelas strategi mereka, menerjemahkan strategi menjadi
tindakan, dan menghasilkan umpan balik yang bermanfaat, seperti apakah strategi
tersebut menciptakan nilai, berpengaruh terhadap kompetensi inti, memuaskan
pelanggan perusahaan, dan menghasilkan penghargaan keuangan untuk para pemegang
saham.
Balanced scorecard mengusulkan agar kita melihat organisasi,
mengembangkan standar pengukuran, serta mengumpulkan data dan menganalisisnya
berdasarkan perspektif berikut :
a. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan : Seberapa bagus kita secara terus-menerus
meningkatkan dan menciptakn nilai? Scorecard tersebut menekankan pada
pengukuran yang berhubungan dengan inovasi dan pembelajaran organisasi untuk
menghitung kinerja dalam dimensi ini—kepemimpinan teknologi, waktu siklus
pengembangan produk, peningkatan proses operasi, dan seterusnya.
b. Perspektif proses bisnis : Apakah kompetensi utama kita dan bidang-bidang dari kehebatan operasi?
Proses bisnis internal dan pelaksanaannya yang efektif sebagaimana diukur
dengan produktivitas, waktu siklus, pengukuran kualitas, periode dan tidak
produktif, berbagai pengukuran biaya, dan lainnya, merupakan input scorecard untuk perspektif ini.
c. Perspektif pelanggan: Seberapa puaskah para pelanggan? Perspektif kepuasan pelanggan
secara khusus menambah pengukuran yang berhubungan dengan tingkat kerusakan,
pengiriman tepat waktu, dukungan garansi, pengembangan produk, dan lainnya.
d. Perspektif keuangan: Bagaimana kita melayani para pemegang saham? Perspektif keuangan
secara khusus menggunakan pengukuran arus kas, pengembalian atas modal,
penjualan, dan pertumbuhan penghasilan.
INOVASI
Inovasi
(innovation) merupakan komersialisasi
awal penemuan dengan menghasilkan dan menjual suatu produk, jasa, atau proses
baru. Ada 2 jenis inovasi, yaitu :
a. Inovasi
inkremental (incremental innovation)
Inovasi inkremental diartikan sebagai perubahan atau
penyesuaian sederhana dalam produk, jasa, atau proses yang ada. Dorongan utama
dari inovasi inkremental dalam banyak perusahaan selama beberapa tahun terakhir
berasal dari program-program yang ditujukan pada peningkatan terus-menerus,
pengurangan biaya, dan pengelolaan kualitas.
Six sigma adalah pendekatan terus-menerus lainnya yang
digunakan banyak perusahaan untuk memacu peningkatan inovasi dalam bisnis. Six sigma merupakan pendekatan yang
tepat dan analitis terhadap kualitas dan peningkatan terus-menerus dengan
tujuan meningkatan keuntungan melalui pengurangan barang cacat, menghasilkan
peningkatan, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan kinerja terbaik di kelasnya.
b. Inovasi
terobosan (breakthrough innovation)
Inovasi terobosan merupakan inovasi dalam hal produk,
proses, teknologi, atau biaya terkait hal ini yang menunjukkan lompatan kuantum
ke arah perbaikan pada satu atau lebih cara-cara tersebut.
Pendekatan terobosan terhadap inovasi pada dasarnya
lebih berisiko daripada pendekatan inovasi inkremental, karena
perusahaan-perusahaan yang berkomitmen terhadap inovasi terobosan pertama-tama
harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana pentingnya suatu proyek
terobosan terhadap masa depan perusahaan secara jelas kepada semua karyawan di
setiap tingkatan.
Risiko-risiko Terkait Inovasi
a.
Risiko
Pasar
Berasal dari ketidakpastian terkait keberadaan suatu
pasar, ukurannya, dan tingkat pertumbuhannya bagi produk atau jasa yang
dimaksud.
b. Risiko
Teknologi
Berasal dari ketidakpastian mengenai bagaimana
teknologi akan berkembang serta kerumitan yang muncul melalui standar teknis
dan desain atau pendekatan dominan.
KEWIRAUSAHAAN
Kewirausahaan adalah proses
menggabungkan ide serta tindakan kreatif dan inovatif dengan keahlian manajemen
dan organisasi yang diperlukan untuk mengerahkan sumber daya manusia, uang, dan
operasi yang tepat untuk mencapai suatu kebutuhan yang dikenali dan menciptakan
kekayaan dalam prosesnya.
Tiga elemen penting dalam kewirausahaan, yaitu :
a.
Peluang
b.
Tim kewirausahaan
Pengusaha sukses dan tim
kewirausahaan membawa beberapa kompetensi dan karakteristik pada perusahaan baru
mereka, yaitu kompetensi teknis dan keahlian manajemen bisnis. Beberapa
perilaku dan karakteristik psikologis yang biasanya dikaitkan dengan para
pengusaha sukses :
· Komitmen
tiada akhir dan kebulatan tekad.
· Keinginan
kuat terhadap pencapaian.
· Orientasi
terhadap peluang dan tujuan.
· Lokus
pengendalian internal.
· Toleransi
terhadap ketidakjelasan dan stres.
· Keahlian
dalam mengambil banyak risiko.
· Tidak
terlalu membutuhkan status dan kekuasaan.
· Penyelesai
masalah.
· Kebutuhan
yang besar akan umpan balik.
· Kemampuan
menghadapi kegagalan.
· Energi yang
tak terbatas, kesehatan yang baik, dan kestabilan emosional.
· Kreativitas
dan inovasi.
· Intelegensi
dan kemampuan konseptual yang tinggi.
· Visi dan
kapasitas untuk mengilhami.
c.
Sumber daya
· Pendanaan
dengan utang (debt financing), adalah
uang yang disediakan untuk perusahaan yang harus dibayar kembali pada suatu
waktu. Kewajiban membayar biasanya dijaminkan dengan properti atau peralatan
yang dibeli malalui bisnis, atau dari harta pribadi pengusaha.
· Pendanaan
dengan ekuitas (equity financing), adalah uang yang disediakan untuk perusahaan
yang memungkinkan penyedia memiliki hak atau kepemilikan dalam perusahaan dan
tidak diharapkan untuk dibayar kembali.
Kewirausahaan
dalam Perusahaan (intrapreneurship)
Intrapreneurship adalah
proses dan upaya untuk mengidentifikasi, mendorong, memungkinkan, dan membantu
terwujudnya kewirausahaan dalam suatu perusahaan besar, dalam rangka untuk
menciptakan produk, proses, atau jasa baru yang menjadi aliran penghasilan baru
utama dan sumber-sumber penghematan biaya bagi perusahaan.