BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perusahaan yang sudah mapan dan maju biasanya sudah
bisa mengatur manajemen persediaan untuk menunjang barang dan jasa yang mereka
jual kepada perusahaan. Kadang jika perusahaan itu tidak bisa mengatur
persediaannya entah itu produk mereka sendiri atau barang setengah jadi dan
barang mentah kadang juga bisa menghambat proses dari pembuatan barang tersebut
atau kadang juga bisa menghambat pelaksanaan jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan. Inilah mengapa manajemen persediaan atau Inventory Management
itu penting.
Istilah persediaan (Inventory) adalah suatu istilah umum
yang menunjukkan segala sesuatu atau sumberdaya-sumberdaya organisasi yang
disimpan dalam antisipasi pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumberdaya
internal ataupun eksternal ini meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam
proses, barang jadi atau produk akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap dan
komponen-komponen lain yang menjadi bagian keluaran produk perusahaan.
Persediaan {inventory) merupakan barang yang disimpan untuk
digunakan atau dijual pada periode mendatang. Persediaan erat hubungannya
dengan operasional perusahaan, baik perusahaan yang bergerak dalam bidang
perdagangan maupun industri. Jika penanganan persediaan tidak dilaksanakan
dengan baik maka akan mengakibatkan resiko terganggunya proses produksi atau
tidak terpenuhinya pesanan pembelian, akibatnya dapat merugikan perusahaan.
Dimana persediaan merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi
perusahaan yang secara berlanjut diperoleh atau diproduksi maupun dijual.
Persediaan menyembunyikan banyak masalah yang terjadi di
lapangan. Dengan persediaan yang banyak, masalah produk cacat dapat tertutupi
karena output proses seolah memenuhi jumlah yang dibutuhkan, padahal produk
cacatnya digantikan oleh persediaan. Masalah aliran produksi yang tidak lancar
juga dapat ditutupi dengan persediaan yang banyak. Itu sebabnya dalam konsep
manajemen produksi jepang, persediaan dikendalikan dengan sangat baik lewat
pendekatan Just In Time. Dimana persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya
operasi perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi
barang-barang serta menyampaikan kepada pelanggan.
BAB
2
PEMBAHASAN
A. INVENTORY
Inventori
atau persediaan dalam sebuah perusahaan adalah stok barang yang digunakan
untuk memenuhi permintaan pelanggan dan untuk memfasilitasi
proses produksi.
Persediaan terdiri dari :
·
Persediaan
alat – alat kantor,
adalah persediaan yang diperlukan dalam menjalankan fungsi organisasi dan tidak
menjadi bagian dari produk akhir. Misal alat tulis,kertas, tinta printer.
- Persediaan bahan baku, adalah item yang dibeli dari para Supplier untuk digunakan sebagai input dalam proses produksi. Bahan baku ini yang akan diproses atau dioleh sehingga menjadi produk barang jadi. misalnya untuk industri mebel membutuhkan persediaan bahan baku berupa kayu jati dan rotan.
- Persediaan barang dalam proses, adalah bagian dari produk akhir tetapi masih dalam proses pengerjaan karena masih menunggu item yang lain untuk diproses. Misalnya dalam industri makanan roti persediaan dalam proses berupa adonan roti dari beberapa bahan yang nantinya siap dimasak untuk menjadi roti.
- Persediaan barang jadi, adalah persediaan produk akhir yang siap untuk dijual, didistribusikan atau disimpan yang menjadi inti proses dari perusahaan. Misalnya dalam industri mobil itu meliputi mobil itu sendiri.
- Persediaan Barang Penunjang Perawatan (Maintenance, Repair and Operating Supplies)
Inventori dihitung sebagai salah satu jenis
kekayaan perusahaan sehingga membutuhkan modal (capital) yang besar untuk
pengadaan/pembeliannya. Di satu pihak iinventori merupakan beban bagi keuangan
perusahaan, namun di sisi yang lain ketersediaan inventori merupakan
suatu keharusan agar proses operasi/produksi dapat berjalan
lancar dan permintaan konsumen/pelanggan dapat dipenuhi.
Dari uraian diatas, maka perusahaan harus menjaga
keseimbangan dari inventorinya. Apabila inventori terlalu besar, maka beban
keuangan (capital) perusahaan akan berat. Namun apabila terlalu
kecil/sedikit maka operasi/produksi akan terganggu dan tingkat
layanan (service level) perusahaan kepada pelanggan akan menjadi
rendah.
B.
INVENTORY
MANAGEMENT
Manajemen Persediaan atau inventory
management merupakan salah satu aset
penting dalam perusahaan. Perencanaan dan pengendalian persediaan
merupakan suatu kegiatan penting yang mendapat perhatian khusus dari manajemen
perusahaan. Karena pemborosan terjadi didalam persediaan. Namun jika
tidak dipenuhi maka bisa menghambat produksi
barang atau jasa.
Mengendalikan persediaan atau inventory
management yang tepat bukanlah hal yang mudah.
Apabila jumlah persediaan terlalu besar mengakibatkan timbulnya dana yang
dikeluarkan terlalu besar, meningkatnya biaya penyimpanan
(seperti biaya pegawai, Biaya operasional pabrik, biaya gedung, dll) dan resiko
kerusakan barang yang lebih besar. Namun bila persediaan terlalu sedikit
mengakibatkan resiko terjadinya kekurangan persediaan ( stock out )
karena seringkali barang persediaan tidak dapat didatangkan secara mendadak
yang menyatakan terhentinya proses produksi, tertundanya keuntungan, bahkan hilangnya pelanggan.
Kenapa kita harus mengadakan persediaan barang?
Mengapa kita mengadakan persediaan
barang mulai dari bentuk bahan mentah sampai barang jadi adalah
1. Menghilangkan
resiko keterlambatan datangnya barang – barang atau bahan – bahan yang
dibutuhkan perusahaan.
2. Menghilangkan
resiko dan material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3. Menumpuk
bahan – bahan yang dihasilkan secara musiman, sehingga dapat digunakan bila
bahan tidak ada di pasaran.
4. Mempertahankan
stabilitas operasi perusahaan atau menjamin lancarnya arus produksi.
5. Penggunaan
mesin yang optimal.
6. Memberikan
pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan perlanggan
disuatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang
yang dibutuhkan pelanggan.
7. Membuat
pengadaan atau produksi tidak sesuai dengan penggunaan atau penjualnya.
Oleh
karena manajemen persediaan itu penting. Untuk manajemen persedian sekarang ini
sudah harus terintegrasi dengan pemasaran dan dengan top manajemen.
Istilah
Just In time dalam Manajemen
perusahaan bukan berarti mentiadakan persediaan atau inventory namun Persediaan
tersebut dibuat seminimal mungkin sehingga tidak ada pemborosan pemborosan
yang ada disitu.
Yang harus diperhatikan dalam manajemen persediaan
adalah
1. waktu kedatangan barang yang akan dipesan
kembali. Jika barang waktu yang dipesan
cukup lama pada periode tertentu maka persediaan barang tersebut harus
disesuaikan hingga barang tersebut ada setiap saat hingga barang yang dipesan
selanjutnya ada.
2. Berapa
kuantitas jumlah barang yang akan disimpan.
Jumlah kuantitas barang yang dipesan harus disesuaikan karena jika terlalu
banyak akan terjadi pemborosan namun jika terlalu sedikit akan menimbullkan
terhenti proses produksi.
3. Perhatikan juga safety stock atau persediaan
pengamanan. yaitu persediaan buat jaga jaga
(buffer) jika terjadi sesuatu hal yang menghambat terjadinya waktu pembeliaan
sehingga stock barang persediaan masih ada untuk beberapa waktu ke depan.
Persediaan pada perusahaan industri dan jasa adalah berbeda
ditinjau dari sifat dan jenisnya, tetapi fungsinya sama yaitu untuk dijual dan
merupakan unsur yang sangat aktif didalam perusahaan. Sifat atau batasan barang
yang dapat diklasifikasikan sebagai persediaan adalah bervariasi sesuai dengan
aktivitas perusahaan. Ada paradigma yang salah yang banyak dianut oleh
manajemen perusahaan, yaitu bahwa persediaan dianggap sebagai asset perusahaan.
Karena dianggap sebagai asset, maka persediaan ini tidak diperlakukan
sebagaimana mestinya dengan cara membiarkannya begitu saja karena nilainya yang
besar akan menunjukkan perusahaan memiliki nilai asset yang besar. Paradigma
semacam ini harus diluruskan karena sudah tidak berlaku lagi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan paradigmanya berubah. Salah satu faktornya adalah product life cycle (PLC) produk yang semakin pendek. Jika dulu satu produk bisa berumur lebih dari 1 tahun, maka saat ini kisaran umur produk hanya dalam periode bulan, terlebih lagi untuk produk elektronik atau yang berbasis Teknologi Informasi. makin pendeknya PLC memperbesar peluang produk untuk menjadi usang lebih awal. Tentu saja perusahaan tidak menginginkan produknya usang di gudang.
Faktor lain yang harus diperhatikan adalah besarnya biaya yang dikeluarkan untuk persediaan. Memang banyak perusahaan, terutama yang besar, tidak mengeluarkan biaya secara langsung terkait dengan pesediaan yang mereka miliki. Mereka punya gudang sendiri, alat penanganan material sendiri, orang sendiri yang sudah dibayar secara penuh. Walaupun demikian, seharusnya biaya-biaya yang muncul terutama yang tidak tampak seperti nilai produk yang terdepresiasi, biaya karena usang atau rusak, biaya kesempatan, asuransi, pajak, utilities memiliki porsi yang tidak sedikit disamping biaya sewa gudang atau lahan. Jadi sebenarnya biaya persediaan ini jauh lebih besar daripada nilai produknya sendiri.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan paradigmanya berubah. Salah satu faktornya adalah product life cycle (PLC) produk yang semakin pendek. Jika dulu satu produk bisa berumur lebih dari 1 tahun, maka saat ini kisaran umur produk hanya dalam periode bulan, terlebih lagi untuk produk elektronik atau yang berbasis Teknologi Informasi. makin pendeknya PLC memperbesar peluang produk untuk menjadi usang lebih awal. Tentu saja perusahaan tidak menginginkan produknya usang di gudang.
Faktor lain yang harus diperhatikan adalah besarnya biaya yang dikeluarkan untuk persediaan. Memang banyak perusahaan, terutama yang besar, tidak mengeluarkan biaya secara langsung terkait dengan pesediaan yang mereka miliki. Mereka punya gudang sendiri, alat penanganan material sendiri, orang sendiri yang sudah dibayar secara penuh. Walaupun demikian, seharusnya biaya-biaya yang muncul terutama yang tidak tampak seperti nilai produk yang terdepresiasi, biaya karena usang atau rusak, biaya kesempatan, asuransi, pajak, utilities memiliki porsi yang tidak sedikit disamping biaya sewa gudang atau lahan. Jadi sebenarnya biaya persediaan ini jauh lebih besar daripada nilai produknya sendiri.
FUNGSI
FUNGSI PERSEDIAAN
Tujuan manajemen persediaan adalah
menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan.
Keempat fungsi persediaan antara lain :
·
“Decouple” atau memisahkan beberapa
tahapan dari proses produksi. Sebagai contoh, jika persediaan sebuah perusahaan
berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan untuk melakukan decouple
proses produksi dari pemasok
·
Melakukan “decouple” perusahaan dari
fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan
memberikan pilihan bagi pelanggan
·
Mengambil keuntungan dari diskon
kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman
barang
·
Melindungi terhadap inflasi dan kenaikan
harga
Untuk mengakomodasi
fungsi-fungsi persediaan tersebut, perusahaan harus memelihara empat jenis
persediaan yaitu pertama, Persediaan barang mentah (raw material inventory) , persediaan ini dapat digunakan untuk
melakukan decaople (memisahkan ) pemasok dari proses produksi. Pendekatan yang
dipilih adalah menghilangkan variabilitas pemasok akan kualiatas, kuantitas,
atau waktu pengantaran sehingga tidak diperlukan pemisahan.
Kedua, persediaan
barang setengah jadi (work in process-WIP inventory), adalah komponen komponen
atau bahan mentah yang telah melewati beberapa proses perubahan,tetapi belum
selesai. WIP adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu produk
(disebut waktu siklus). mengurangi waktu siklus akan mengurangi persediaan
Ketiga, MRO
(maintenance, repair, operating), persediaan persediaan yang disedikan untuk
persediaan pemeliharaan, perbaikan dan operasi yang dibutuhkan untuk menjaga
agar mesin mesin dan proses proses tetap produktif. MRO ada karena kebutuhan
serta waktu untuk pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa perlengkapan tidak
di ketahui. Keempat, persediaan barang jadi, adalah produk ynag telah selesai
dan tinggal menunggu pengiriman. Barang jadi dapat dimasukan ke persediaan
karena permintaan pelanggan dimasa mendatang tidak diketahui.
MANAJEMEN
PERSEDIAAN
Manajer operasi membuat
sistem-sistem untuk mengelola persediaan. ada dua unsur dari sistem tersebut
yaitu (1) bagaimana barang barang persediaan dapat diklasifikasikan (analisis
ABC) dan (2) seberapa akurat catatan persediaan dapat dijaga. Kemudian kita
akan mengamati kontrol persediaan dalam sektor pelayanan
·
Analisis ABC
Analisis
ABC membagi persediaan yang ada menjadi tiga klasifikasi dengan basis volume
dolar tahunan. Analisis ABC adalah sebuah aplikasi persediaan dari prinsip
pareto. Prinsip pareto menyatakan terdapat “sedikit hal yang kritis dan banyak
yang sepele”. Gagasannya adalah untuk membuat kebijakan kebijakan persediaan
yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan kritis yang sedikit
dan tidak pada banyak yang sepele. Untuk menentukan volume dolar tahunan dari
analisis ABC, kita mengukur permintaan tahunan dari setiap barang persediaan
dikalikan biaya perunitnya.
·
Akurasi Catatan
Akurasi catatan sangat
penting bagi manajemen untuk mengetahui persediaan yang tersedia. Akurasi
catatan adalah sebuah unsur kritis dalam sistem produksi dan persediaan.
Akurasi catatan membuat manajemen fokus pada barang-barang yang diperlukan
daripada menetapkan untuk yakin bahwa “beberapa dari semuanya” berada dalam
persediaan. Ketika sebuah organisasi dapat menentukan secara akurat apa yang
dimilikinya sekarang, organisasi tersebut dapat mengambil keputusan yang tepat
mengenai pemesanan, penjadwalan, dan pengiriman.
Sama halnya dengan
penyimpanan catatan masuk dan keluar, keamanan ruang penyimpanan harus baik
untuk dapat menjamin akurasi. Sebuah ruang penyimpanan yang tertata dengan baik
akan memiliki akses yang terbatas, housekeeping
yang baik, dan area penyimpanan yang menyimpan persediaan dalam jumlah yang
tetap. Wadah-wadah, rak-rak, dan bagian-bagian akan diberi label secara akurat.
·
Perhitungan Siklus
Walaupun sebuah
organisasi mungkin telah memuat usaha-usaha besar untuk mencatat persediaan
secara akurat, catatan-catatan ini harus diverifikasi melalui audit
berkelanjutan. Audit-audit semacam ini dikenal dengan perhitungan siklus (cycle counting). Berdasarkan sejarah, banyak
perusahaan melakukan persediaan fisik tahunan. Praktik ini kerap harus
dilakukan dengan menutup fasilitas dan menugaskan orang-orang tidak
berpengalaman untuk menghitung bagian-bagian dan bahan. Catatan-catatan
persediaan seharusnya diverifikasi melalui perhitungan siklus. Perhitungan
siklus menggunakan klasifikasi persediaan yang dikembangkan melalui anlisis
ABC. Dengan prosedur-prosedur perhitungan siklus, barang-barang dihitung,
catatan-catatan diverifikasi, dan ketidakakuratan didokumentasikan secara
periodik. Kemudian, penyebab ketidakakuratan dilacak dan diambil tindakan
perbaikan yang tepat untuk menjamin integritas sistem persediaannya.
Barang-barang A mungkin akan sering dihitung satu bulan sekali; barang-barang B
mungkin akan dihitung setiap 3 bulan sekali; dan barang-barang C mungkin akan
dihitung setiap 6 bulan sekali. Contoh 2 mengilustrasikan cara menghitung
jumlah barang dari setap klasifikasi untuk dihitung setiap hari.
Contoh
2 Perhitungan
Siklus di Sebuah Penghasilan Truk
Cole Trucks, Inc.,
sebuah produsen truk sampah berkualitas tinggi, memiliki sekitar 5.000 barang
dalam persediaannya. Mereka ingin menentukan banyaknya barang untuk dihitung
siklus setiap hari.
Pendekatan:
Setelah
menyewa Matt Clark, seorang mahasiswa MO yang cerdas, perusahaan menentukan
bahwa mereka memiliki 500 barang A, 1.750 barang B, dan 2.750 barang C selama
musim panas. Kebijakan perusahaan yang berlaku adalah untuk menghitung semua
barang A setiap bulan (setiap 20 hari kerja), semua barang B setiap 3 bulan
(setiap 60 hari kerja), dan semua barang C setiap 6 bulan (setiap 120 hari
kerja). Kemudian, perusahaan mengalokasikan beberapa barang untuk dihitung
setiap hari.
Solusi
:
|
Kelas Barang
|
Kuantitas
|
Kebijakan
Perhitungan Siklus
|
Jumlah
barang Dihitung per Hari
|
|
A
|
500
|
Setiap bulan
(setiap 20 hari kerja)
|
500/20 =
25/hari
|
|
B
|
1.750
|
Setiap 3
bulan (setiap 60 hari kerja)
|
1.750/60 =
29/hari
|
|
C
|
2.750
|
Setiap 6
bulan (setiap 120 hari kerja)
|
2.750/120 =
23/hari
|
Tujuh puluh tujuh barang dihitung setiap
harinya.
Pemahaman
:
audit harian dari 77 barang ini jauh lebih efisien dan akurat dibandingkan
melakukan sebuah perhitungan persediaan besar-besaran setahun sekali.
Pada contoh di atas, barang tertentu
yang akan dihitung secara siklus dapat dpilih setiap hari secara berurutan atau
acak. Pilihan lainnya adalah untuk menghitung siklus barang-barang setiap kali
barang tersebut dipesan ulang.
Perhitungan
siklus juga memiliki berbagai keuntungan berikut:
1.
Menghindarkan penutupan dan interupsi produksi
yang diperlukan untuk inventarisasi fisik tahunan.
2.
Menghilangkan penyesuaian persediaan
tahunan.
3.
Audit akurasi persediaan dilakukan oleh
pegawai terlatih
4.
Mempermudah pengidentifikasian dan
penanggulangan atas penyebab kesalahan
5.
Menjaga akurasi catatan-catatan
persediaan.
·
Kontrol Persediaan Pelayanan
Manajemen dari
persediaan pelayanan layak mendapatkan pertimbangan khusus. Sebagai contoh,
persediaan ekstensif yang disimpan dalam bisnis grosir dan eceran membuat
manajemen persediaan sangat penting dan seriing menjadi faktor penentu dalam
kemajuan manajer. Dalam bisnis pelayanan makanan, contohnya, kontrol persediaan
dapat membuat perbedaaan antara kesuksesan dan kegagalan. Lebih dari itu,
persediaan yang berada dalam posisi transit atau tidak digunakan dalam gudang
sama saja dengan nilai yang hilang. Sama halnya, kerusakan atau pencurian
sebelum terjual adalah kerugian. Dalam bisnis eceran, persediaan yang tidak
tercatat dlam kuitansi saat penjualan dikenal dengan penyusutan. Penyusutan muncul dari kerusakan dan pencurian, juga
dari administrasi yang ceroboh. Pencurian persediaan juga dikenal dengan pilferage.
Kerugian persediaan eceran sebesar 1% dari penjualan dapat dianggap baik dengan
mempertimbangkan ahwa kerugian di banyak toko melebihi 3%. Beriku teknik-teknik
dalam akurasi dan kontrol persediaan.
1.
Pemilhan, pelatihan, dan pendisiplinan
yang baik
Hal-hal
ini tidaklah mudah, tetapi sangat diperlukan dalm operasi-operasi pelayanan
makanan, grosir, dan eceran di mana pegawai memiliki akses ke barang yang
langsung dikonsumsi.
2.
Kontrol yang ketat dari pengiriman yang
datang
Tugas
ini diselesaikan oleh banyak perusahaan melalui penggunaan barcode dan sistem radio frequency ID (RFID) yang membaca
setiap pengiriman yang datang dan memeriksa jumlah hitungan terhadap pesanan
pembelian secara otomatis. Jika dirancang dengan tepat, sistem ini sulit
dikalahkan. Setiap barang memiliki stock
keeping unit yang unik.
3.
Kontrol yang efektif atas semua barang
yang meninggalkan fasilitas
Tugas
ini diselesaikan dengn barcode pada
barang yang dikirimkan, pita magnetis pada barang, atau melalui observasi
langsung. Observasi langsung dapat dijaga oleh pegawai pada pintu keluar dan
dlam daerah-daerah yang berpotensi kerguian tinggi atau dapat berbentuk cermin
satu arah dan pengawasan video. Operasi eceran yang sukses memerlukan kontrol
tingkat toko yang sangat baik dengan persediaan yang akurat di lokasinya yang
sesuai. Baru-baru ini, sebuah studi menemukan bahwa konsumen dan pelayan toko
tidak dapat menemukan 16% dari barang-barang di salah satu pengecer terbesar
Amerika Serikat –bukan karena barangnya habis, melaiinkan mereka salah
meletakkannya (dalam ruangan belakang, daerah penyimpanan, atau di lorong yang
salah). Melalui perkiraaan peneliti, pengecer-pengecer besar kehilangan 10%
sampai 25% dari keuntungan totalnya karena catatan-catatan persediaan yang
buruk atau tidak akurat.
MODEL-MODEL
PERSEDIAAN
Sekarang,
kita melihat bergam model persediaan dan biaya terkait dengan persediaan.
·
Permintaan
Independen versus Permintaan Dependen
Model-model
kontrol persediaan mengasumsikan bahwa permintaan untuk sebuah barang
independen dari atau dependen pada permintaan akan barang lain. Sebagai contoh,
permintaan untuk kopi independen terhadap permintaan untuk garam. Akan tetapi,
permintaan gula dependen terhadap permintaan kopi.
·
Biaya
Penyimpanan, Pemesanan, dan Penyetelan
Biaya penyimpanan
(holding cost) mencakup biaya dengan
menyimpan persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan
juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan,
seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga. Tabel di bawah ini
akan menunjukkan jenis-jenis biaya yang harus dievaluasi untuk menentukan
besarnya biaya penyimpanan. Banyak perusahaan yang tidak berhasil menyertakan
semua biaya penyimpanan persediaan. Akibatnya, biaya penyimpanan persediaan
sering ditetapkan kurang dari sebenarnya.
· Biaya pemesanan(ordering cost) mencakup biaya dari
persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan
seterusnya. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi
mereka adalah bagan dari biaya penyetelan. Biaya
penyetelan (setup cost) adalah
biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah
pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta
mengganti peralatan atau alat penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya
pemesanan dengan mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang
efisien, seperti pemesanan dan pembayaran elektronik.
Dalam
banyak lingkungan kerja, biaya penyetelan sangatlah berkatan dengan waktu penyetelan (setup time).
Penyetelan biasanya memerlukan sejumlah pekerjaan yang harus dilakukan sebelum
penyetelan benar-benar dimulai di pusat kerja. Dengan perencanaan yang tepat,
banyak persiapan yang diperlukan untuk melakukan sebuah penyetelan dapat
dilakukan tanpa harus mematikan mesin atau proses. Dengan demikian, waktu
penyetelan cukup banyak yang dikurangi. Mesin-mesin dan proses-proses yang
secara tradisional akan memakan waktu berjam-jam untuk dipasang, sekarang dapat
dipasang dalam waktu kurang dari satu menit seiring dengan semakin
imajinatifnya pabrik-pabrik kelas dunia. Mengurangi waktu penyetelan adalah
cara yang sangat baik untuk mengurangi investasi persediaan dan meningkatkan
produktivitas.
MODEL-MODEL PERSEDIAAN UNTUK
PERMINTAAN INDEPENDEN
Berikut ini adalah tiga
model permintaan independen:
1. Model
kuantitas pesanan ekonomis yang mendasar.
2. Model
kuantitas pesanan produksi.
3. Model
diskon kuantitas.
·
Model Kuantitas Pesanan Ekonomis
Adalah salah satu
teknik control persediaan yang tertua dan paling dikenal. Teknik ini relatif
mudah digunakan, tetapi berdasarkan pada beberapa asumsi:
-
Jumlah permintaan diketahui, konstan,
dan independen.
-
Waktu tunggu diketahui dan konstan.
-
Penerimaan persediaan bersifat instan
dan selesai seluruhnya.
-
Tidak tersedia diskon kuantitas.
-
Biaya variabel hanya biaya untuk
menyiapakan atau melakukan pemesanan dan biaya menyimpan persediaan dalam waktu
tertentu.
-
Kehabisan persediaan dapat sepenuhnya
dihindari jika pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat.
2.6 Sistem Periode Tetap
Model-model persediaan yang telah
kita pertimbangkan sejauh ini adalah sistem kuantitas tetap atau sistem Q.
Artinya, jumlah tetap yang sama ditambahkan pada persediaan setiap kali sebuah
pesanan untuk sebuah barang ditempatkan.
Untuk menggunakan model kuantitas
tetap, persediaan harus dipantau secara berkelanjutan. Ini disebut sistem
persediaan perpetual. Setiap kali barang ditambahkan atau diambil dari
persediaan, catatan harus diperbarui untuk menjamin ROPnya belum tercapai.
Pada sistem periode tetap atau
sistem P, di lain pihak, persediaan di pesan pada akhir periode tertentu.
Barulah dan hanya jika demikian, persediaan yang akan dihitun. Jumlah yang
dipesan hanyalah sebanyak yang diperlukan untuk mencapai tingkat target yang
telah ditentukan.
Sistem-sistem periode tetap memiliki
beberapa asumsi yang sama seperti sistem kuantitas tetap EOQ dasar.
·
Biaya
biaya yang relevan hanya biaya pemesanan dan biaya penyimpanan
·
Waktu
tunggu diketahui
·
Barang-barang
saling independen.
CONTOH SOAL
Pada
sebuah perusahaan, diketahui rata-rata penjualan 1.000 unit per bulan, biaya
setiap kali pesan adalah Rp 600.000,00 biaya simpan
sebesar Rp 10.000,00 per unit, dengan kebijakan pemesanan 2.000 unit setiap
kali pesan. Berapakah jumlah pesanan ekonomisnya?
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Perusahaan
yang sudah mapan dan maju biasanya sudah bisa mengatur manajemen persediaan
untuk menunjang barang dan jasa yang mereka jual kepada perusahaan.
Kadang jika perusahaan itu tidak bisa mengatur persediaannya entah itu produk
mereka sendiri atau barang setengah jadi dan barang mentah kadang juga bisa
menghambat proses dari pembuatan barang tersebut atau kadang juga bisa
menghambat pelaksanaan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Inilah mengapa
manajemen persediaan atau Inventory Management itu penting.
Persediaan (Inventory) adalah suatu istilah umum yang
menunjukkan segala sesuatu atau sumberdaya-sumberdaya organisasi yang disimpan
dalam antisipasi pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumberdaya internal
ataupun eksternal ini meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam proses,
barang jadi atau produk akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap dan
komponen-komponen lain yang menjadi bagian keluaran produk perusahaan
Manajemen Persediaan atau inventory management merupakan salah
satu aset penting dalam perusahaan. Perencanaan dan pengendalian
persediaan merupakan suatu kegiatan penting yang mendapat perhatian
khusus dari manajemen perusahaan. Karena pemborosan terjadi
didalam persediaan. Namun jika tidak dipenuhi maka bisa menghambat produksi
barang atau jasa.
DAFTAR PUSTAKA

No comments:
Post a Comment