4
variabel strategi yang paling penting dalam
pemasaran yakni harga, promosi, kualitas produk dan tempat pemasaran.
Berbicara mengenai kualitas, Seorang
pakar marketing dan penjualan pernah mengatakan bahwa "quality is a
must". Ya, kualitas adalah sebuah keharusan yang harus dijaga dan
ditingkatkan bila sebuah perusahaan ingin tetap eksis dalam persaingan
penjualan. Bukan hanya karena konsumen adalah raja namun saat ini konusmen
sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan produk/jasa mana yang akan
dibeli. Konsumen selalu beranggapan bahwa produk/jasa yang diperoleh harus
sesuai dengan uang yang telah dikeluarkan. Sehingga penting bagi perusahaan
penyedia produk/jasa untuk selalu menjaga kualitas agar supaya konsumen tidak
berpaling ke perusahaan pesaing.
Kualitas menurut Evans da Lindsay merupakan
kunci keunggulan bersaing (competitive advantage), yaitu kemampuan sebuah
perusahaan untuk mencapai keunggulan pasar. Dalam jangka panjang, keunggulan
bersaing yang terjaga akan menghasilkan kinerja di atas rata-rata.
KUALITAS PRODUK DAN
STRATEGI KEUNGGULAN BERSAING
Bentuk
dari suatu formula bisnis yang membantu perusahaan mengetahui posisinya di
tengah-tengah persaingan industri dan juga bisa dikaitkan langsung dengan
penerapan strategi yang ideal di tengah-tengah persaingan tersebut.
MENURUT STRATEGI GENERIK PORTER
Keunggulan bersaing menurut Porter (1986) adalah kemampuan suatu perusahaan untuk meraih keuntungan ekonomis di atas laba yang mampu diraih oleh pesaing di pasar dalam industri yang sama. Perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif senantiasa memiliki kemampuan dalam memahami perubahan struktur pasar dan mampu memilih strategi pemasaran yang efektif.
Dalam analisanya tentang strategi bersaing (competitive strategy atau disebut juga Porter’s Five Forces) suatu perusahaan, Michael A.
Porter meyimlka 3 jenis strategi generik, yaitu: Keunggulan Biaya (Cost Leadership), Pembedaan Produk (Differentiation), dan Focus.
1. Strategi Biaya Rendah (cost leadership)
Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya memproduksi
produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya per unit yang sangat
rendah. Produk ini (barang maupun jasa) biasanya ditujukan kepada konsumen yang
relatif mudah terpengaruh oleh pergeseran harga (price sensitive)
atau menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan. dimana konsumen tidak
(terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan
pembedaan produk, atau jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan
tawar-menawar yang signifikan.
Strategi ini membuat perusahaan mampu bertahan
terhadap persaingan harga bahkan menjadi pemimpin pasar (market leader) dalam menentukan harga dan memastikan
tingkat keuntungan pasar yang tinggi (di atas rata-rata) dan stabil melalui
cara-cara yang agresif dalam efisiensi dan kefektifan biaya.
Untuk dapat menjalankan strategi
biaya rendah, sebuah perusahaan harus mampu memenuhi persyaratan di dua bidang,
yaitu: sumber daya (resources) dan organisasi.
Strategi ini hanya mungkin dijalankan jika dimiliki beberapa keunggulan di
bidang sumber daya perusahaan, yaitu:
kuat akan modal, trampil pada rekayasa proses (process engineering),
pengawasan yang ketat, mudah diproduksi, serta biaya distribusi dan promosi
rendah. Sedangkan dari bidang organisasi,
perusahaan harus memiliki: kemampuan mengendalikan biaya dengan ketat,
informasi pengendalian yang baik, insentif berdasarkan target (alokasi insentif
berbasis hasil). (Umar, 1999).)
Contoh
perusahaan yang menerapkan :
ü Toyota, dilihat dari implementasi JIT (Just in Time) sehingga
proses produksi bisa dipotong, efisiensi dapat tercapai.
ü Garuda membetuk City Link untuk
mengambil pasar yang senang memburu tiket murah tanpa harus menurunkan citra
dan brand dari Garuda yang sudah menjadi maskapai kelas atas di Indonesia. (lower
cost)
2. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)
Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup
menemukan keunikan tersendiri dalam pasar yang jadi sasarannya. Keunikan produk
(barang atau jasa) yang dikedepankan ini memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik
minat sebesar-besarnya dari konsumen potensialnya misalnya dengan adanya features tambahan, fleksibilitas, kenyamanan dan
berbagai hal lainnya yang sulit ditiru lawan. Strategi jenis ini biasa
ditujukan kepada para konsumen potensial yang relatif tidak mengutamakan harga
dalam pengambilan keputusannya (price insensitive).
Contoh penggunaan strategi ini secara tepat adalah pada produk
barang yang bersifat tahan lama (durable) dan sulit
ditiru oleh pesaing.
Pada umumnya strategi biaya
rendah dan pembedaan produk diterapkan perusahaan dalam rangka mencapai
keunggulan bersaing (competitive advantage) terhadap
para pesaingnya pada semua pasar.
Menurut Tjiptono (2001),
strategi pemasaran yang dapat dipilih oleh perusahaan yang menerapkan strategi produk
diferensiasi agar senantiasa memiliki keunggulan bersaing di pasar dapat
dilakukan dengan melakukan pilihan terhadap strategi berikut ini.
a. Diferensiasi Produk
a. Diferensiasi Produk
Kreativitas yang tinggi dalam
menciptakan keunikan produk yang lebih menarik, sejuk, aman, nyaman,
menyenangkan, karyawan yang ramah, terampil, berwawasan, dan mampu mewujudkan
dalam keseharian sehingga lebih diminati oleh konsumen dibandingkan dengan
produk pesaing lainnya.
b. Diferensiasi Kualitas Pelayanan
Kreativitas yang tinggi mengharmonisasikan
unsur-unsur marketing mix : product, place, price,promotion, people, packaging,
programming patnership sehingga kualitas jasa yang dirasakan oleh konsumen melebihi
harapan.
c. Diferensiasi Citra
Citra identik dengan atribut
adalah sebuah karakteristik, yang khusus atau pembeda dari penampilan seseorang
atau benda. Diferensiasi citra adalah bauran yang tepat dari elemen pencitraan,
yang menciptakan citra sebuah merek. Proses pencitraan harus membangun,
memaksimalkan, memanfaatkan, dan mengekploitasikan kekuatan dan kelemahan
setiap elemen citra untuk memastikan bahwa merek itu memiliki prospek yang baik
secara terus- menerus (Zyman, S, 2000 : 95).
Pendekatan Diferensiasi Produk
terhadap Keunggulan Bersaing
Pemilihan produk di antara
banyaknya tawaran yang ada di pasar selalu didasarkan pada adanya perbedaan,
baik secara implicit maupun eksplisit. Literatur Psikologi merujuk kepada fakta
bahwa perbedaan mencolok yang terkait dengan suatu produk akan merangsang daya
ingat karena perbedaan tersebut akan diapresiasikan secara intelektual (Trout, J,
1999 : 14). Perusahaan jasa perlu melakukan diferensiasi melalui inovasi yang
bersifat pre-emptive dalam jangka panjang. Preemptive di sini maksudnya adalah implementasi suatu strategi
yang baru bagi suatu bisnis tertentu. Karena merupakan yang pertama, maka dapat
menghasilkan keterampilan atau aset yang dapat merintangi, mencegah, atau
menghalangi para pesaing untuk melakukan duplikasi atau membuat tandingannya
(Macmillan dalam Aaker, 1992) dalam Tjiptono (2001 : 145--146).
Perusahaan jasa dapat mendeferensiasikan dirinya melalui citra di mata
pelanggan, misalnya melalui simbolsimbol dan merek yang digunakan. Selain itu,
perusahaan dapat melakukan diferensiasi produk dalam penyampaian jasa (service
delivery) melalui tiga aspek yang juga dikenal sebagai 3P dalam pemasaran
jasa, yaitu:
1.orang (people)
2
lingkungan fisik (physical environment)
3. proses
(process)
Keunggulan bersaing yang berkesinambungan adalah kemampuan suatu
perusahaan untuk enciptakan suatu produk yang pada saat pesaing berusaha untuk
menirunya akan selalu mengalami kegagalan secara signifikan. Pada saat
perusahaan menerapkan strategi tersebut dan perusahaan pesaing tidak secara
berkesinambungan menerapkannya serta perusahaan lain tidak mampu meniru
keunggulan strategi tersebut maka perusahaan tersebut dikatakan memiliki
keunggulan bersaing yang berkesinambungan (Hit, Ireland dan Hoskisson, 1996
Di samping factor keunikan produk, perusahaan yang memiliki keunggulan
bersaing juga menerapkan strategi marketing mix yang meliputi
harga yang mampu bersaing, tempat atau lokasi strategis, dan promosi yang
memadai. Simpulan yang dapat ditarik dari konsep
keunggulan bersaing melalui diferensiasi produk adalah bagaimana perusahaan
dapat menciptakan produk unik yang memberikan tingkat keuntungan di
atas rata-rata yang mampu diraih oleh industri melalui kombinasi manusia, lingkungan, dan proses.
Pendekatan Diferensiasi Kualitas Pelayanan terhadap Keunggulan Bersaing
Menurut Tjiptono (2001), cara lain untuk melakukan diferensiasi adalah secara konsisten memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik daripada para pesaing. Hal ini dapat dicapai dengan memenuhi atau bahkan melampaui kualitas jasa yang diharapkan para pelanggan. Kualitas jasa sendiri dipengaruhi oleh dua variabel, yaitu jasa yang dirasakan (perceived service) dan jasa yang diharapkan (expexted service). Bila jasa yang dirasakan lebih kecil daripada yang diharapkan, maka para pelanggan menjadi tidak tertarik lagi pada penyedia jasa yang bersangkutan. Bila yang terjadi adalah sebaliknya (perceived >expexted), maka ada kemungkinan para pelanggan akan menggunakan penyedia jasa itu lagi.
atas rata-rata yang mampu diraih oleh industri melalui kombinasi manusia, lingkungan, dan proses.
Pendekatan Diferensiasi Kualitas Pelayanan terhadap Keunggulan Bersaing
Menurut Tjiptono (2001), cara lain untuk melakukan diferensiasi adalah secara konsisten memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik daripada para pesaing. Hal ini dapat dicapai dengan memenuhi atau bahkan melampaui kualitas jasa yang diharapkan para pelanggan. Kualitas jasa sendiri dipengaruhi oleh dua variabel, yaitu jasa yang dirasakan (perceived service) dan jasa yang diharapkan (expexted service). Bila jasa yang dirasakan lebih kecil daripada yang diharapkan, maka para pelanggan menjadi tidak tertarik lagi pada penyedia jasa yang bersangkutan. Bila yang terjadi adalah sebaliknya (perceived >expexted), maka ada kemungkinan para pelanggan akan menggunakan penyedia jasa itu lagi.
Pendekatan Diferensiasi Citra terhadap Keunggulan Bersaing
Para pemasar yang tidak menciptakan hubungan antara penciptaan citra dan penjualan produk sering kali tidak melakukan pekerjaan yang baik. Menurut Sergio Zyman (2000), banyak perusahaan yang sukses dalam menjual produk karena produk mereka memiliki citra jelas yang menentukan posisi mereka di titik yang secara potensial menarik dalam pilihan konsumen yang begitu banyak.Menurut Trout, J. (2000), kebanyakan perusahaan yang sukses adalah mereka-mereka yang “memiliki kata” yang menempati tempat spesial dalam benak konsumen. Berbagai konsep yang berkembang saat ini menyiratkan bahwa pentingnya citra sebagai sarana atau alat untuk meraih keunggulan bersaing di pasar. Begitu perusahaan telah secara jelas mendefinisikan citranya kepada pelanggan, maka langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan citra tersebut agar elemen ini menjadi sumber keunggulan
bersaing yang Anda miliki dalam jangka panjang (Robert Grede, 2002 : 81). Melalui investasi pada proses pencitraan yang dilakukan secara terus-menerus, perusahaan akan menikmati tingkat pengembalian pasar dalam konsep pemasaran, yang lebih tinggi daripada yang dapat diraih oleh pesaing dalam industri yang sama.
Terdapat dua bidang syarat yang harus dipenuhi untuk memutuskan memanfaatkan strategi ini ; bidang sumber daya (resources) dan bidang organisasi. Dari sisi sumber daya perusahaan, maka untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang tinggi dalam hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk (product engineering), riset pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan ketrampilan kerja. Sedangkan dari sisi bidang organisasi, perusahaan harus kuat dan mampu untuk melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait, merekrut tenaga yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di samping yang obyektif. (Umar, 1999)
Para pemasar yang tidak menciptakan hubungan antara penciptaan citra dan penjualan produk sering kali tidak melakukan pekerjaan yang baik. Menurut Sergio Zyman (2000), banyak perusahaan yang sukses dalam menjual produk karena produk mereka memiliki citra jelas yang menentukan posisi mereka di titik yang secara potensial menarik dalam pilihan konsumen yang begitu banyak.Menurut Trout, J. (2000), kebanyakan perusahaan yang sukses adalah mereka-mereka yang “memiliki kata” yang menempati tempat spesial dalam benak konsumen. Berbagai konsep yang berkembang saat ini menyiratkan bahwa pentingnya citra sebagai sarana atau alat untuk meraih keunggulan bersaing di pasar. Begitu perusahaan telah secara jelas mendefinisikan citranya kepada pelanggan, maka langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan citra tersebut agar elemen ini menjadi sumber keunggulan
bersaing yang Anda miliki dalam jangka panjang (Robert Grede, 2002 : 81). Melalui investasi pada proses pencitraan yang dilakukan secara terus-menerus, perusahaan akan menikmati tingkat pengembalian pasar dalam konsep pemasaran, yang lebih tinggi daripada yang dapat diraih oleh pesaing dalam industri yang sama.
Terdapat dua bidang syarat yang harus dipenuhi untuk memutuskan memanfaatkan strategi ini ; bidang sumber daya (resources) dan bidang organisasi. Dari sisi sumber daya perusahaan, maka untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang tinggi dalam hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk (product engineering), riset pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan ketrampilan kerja. Sedangkan dari sisi bidang organisasi, perusahaan harus kuat dan mampu untuk melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait, merekrut tenaga yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di samping yang obyektif. (Umar, 1999)
Contoh:
ü Starbuck dengan kopinya yang dengan coffe shop lain,
sehingga pengunjung betah berlama-lama dan rela mengeluarkan harga yang cukup
mahal dari yang lain.
ü Blackberry merupakan merk baru
dalam smartphone yang masuk ke Indonesia, namun dalam 5 tahun terakhir sudah
sanggup menggeser Nokia yang sudah bertahun-tahun menjadi penguasa pasar di
Indonesia. Hal ini dikarenakan Blackberry mempunyai fitur yang sangat unik dan
tidak ada di handphone mana pun, yaitu Blackberry massanger yang hanya ada di blackberry
sehingga mewajibkan konsumennya harus membeli blackberry untuk menggunakan
aplikasi ini.
ü NEXIAN tidak mengikuti trend
menjual smartphone yang berharga cukup mahal. NEXIAN mengambil kelas low end
dengan mengambil pangsa pasar kelas menengah kebawah dengan menjual handphone
yang desain dan fiturnya hamper sama dengan smartphone namun dengan harga yang
tidak lebih dari 1,5 juta. (Differentiaion)
3. Strategi Fokus (focus)
Strategi fokus digunakan untuk membangun
keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis
ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil
dan dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh
harga. Dalam pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar
–, strategi fokus diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik
lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan karakteristik produk.
Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen
khusus/khas dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk
memenuhi kebutuhan suatu produk — barang dan jasa — khusus.
Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya
besaran pasar yang cukup (market size), terdapat potensi pertumbuhan
yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai
keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut).
Strategi ini akan menjadi lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu
kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan pesaing. Biasanya
perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada suatu
kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau
produk — barang atau jasa — tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan
konsumen secara baik, excellent delivery.

No comments:
Post a Comment