Dewasa ini, perusahaan
sedang berada pada masa transisi dari
era persaingan global menuju ke era persaingan informasi. Dalam melaksanakan
strategi yang telah ditetapkan perusahaan, pengukuran kinerja beserta
evaluasinya menjadi sangat penting. Kinerja perusahaan diukur dan dievaluasi untuk mengetahui apakah suatu
strategi perusahaan telah dijalankan dengan baik atau tidak. Selain itu
pengukuran kinerja juga memperlihatkan kontribusi para manajer terhadap
perusahaan serta menjadi sumber informasi dalam mengevaluasi tindakan manajer.
pentingnya peranan pengukuran kinerja, juga sebagai sarana untuk memantau
keahlian dan perilaku karyawannya.. Sistem pengukuran kinerja yang selama ini
dilaksanakan oleh banyak perusahaan adalah sistem pengukuran kinerja
berdasarkan pendekatan tradisional yaitu memandang dan menilai kinerja dari
sudut keuangan (Financial aspect ) saja.
Tetapi ternyata, lingkungan bisnis yang semakin kompetitif saat ini juga
menuntut suau pengukuran kinerja dari aspek non keuangan (non-financial aspect)
perusahaan. perspektif pengukuran kinerja dengan hanya memperhatikan unsur
finansial semata harus mulai ditinggalkan. Hal ini disebabkan karena banyak
aspek penentu kesuksesan perusahaan yang
tidak dapat dinilai dengan angka (dikuantifikasikan) dalam satuan mata uang
atau ditampilkan dalam laporan keuangan, seperti kekayaan organisasi yang
sifatnya tidak berwujud (intangible assets) maupun kekayaan intelektual
sumber daya manusia. Padahal, faktorfaktor tersebutlah yang justru menjadi
penentu dan pendorong kemajuan suatu perusahaan (Suharsono, 2005).
Ditinjau dari perspektif non
finansial, perusahaan harus mampu
memberikan kontribusi yang optimal. Untuk itu diperlukan inovasi dalam sistem
pelayanan, peningkatan kompetensi karyawan, komitmen yang kuat untuk
peningkatan produktivitas dan juga peningkatan fasilitas pelayanan publik.
Dengan demikian bisnis perusahaan akan semakin berprofit dengan ditunjang oleh
karyawan yang semakin berkontribusi dan Pada akhirnya, semua hal tersebut
diharapkan dapat mendukung terciptanya keuntungan yang maksimal dari sebuah
pertumbuhan perusahaan yang sehat, peningkatan kesejahteraan karyawan juga pembangunan
dan pengembangan pelayanan masyarakat.
Setiap organisasi, termasuk perusahaan
, membutuhkan alat untuk mengkomunikasikan rencana strategisnya kepada semua karyawan.
Alat komunikasi tersebut adalah balanced scorecard (Imelda, 2004). Balance
scorecard merupakan suatu pendekatan dalam pengukuran kinerja manajemen
perusahaan, yang juga dapat diterapkan sebagai suatu sistem strategi manajemen.
Balance scorecard dapat menuntun manajemen dan karyawan dalam
menterjemahkan visi, misi serta strategi organisasi kedalam tindakan-tindakan
nyata (Kaplan dan Norton, 1992).
Selain mempertimbangkan aspek
finansial, balance scorecard juga mempertimbangkan aspek non finansial. Balance
scorecard tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga aktivitas-aktivitas
penentu hasil akhir. Aplikasi balance scorecard juga mencakup aktivitas
pertumbuhan dan pembelajaran, yang dapat memberikan kontribusi pada proses
bisnis internal. Oleh karena itu, balanced scorecard dinilai sesuai
untuk diterapkan pada organisasi sektor publik. Hal tersebut sejalan dengan
tujuan perusahaan yang menempatkan
pelayanan yang cenderung bersifat kualitatif dan nonkeuangan sebagai prioritas
utama (Mahmudi, 2007).
Balanced Scorecard sangat penting dalam pengukuran kinerja
suatu perusahaan. Prusahaan yang belum menggunakan balanced scorecard untuk
mengukur kinerja, maka pengukuran
kinerja yang dilakukan belum optimal, terutama dari sisi non finansial.
Sistem pengukuran kinerja yang
dirancang oleh Robert S. Kaplan dan David P.Norton, meliputi empat perspektif
yaitu perspektif keuangan, pelanggan atau konsumen, proses bisnis internal serta
perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Melalui empat perspektif dalam balanced
scorecard manajemen mampu menafsirkan
dampak trend perubahan lingkungan bisnis yang kompleks terhadap visi, misi dan
strategi perusahaan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
PENGUKURAN KINERJA
MENGGUNAKAN BALANCESCORECARDS
A.
KINERJA
Kinerja merujuk pada hasil yang
dapat diselesaikan oleh seorang karyawan dalam periode waktu tertentu. Dalam
kamus besar Bahasa Indonesia, kinerja diartikan sebagai sesuatu yang ingin
dicapai, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan seseorang. Istilah kinerja
berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi
kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Kinerja juga
merujuk pada perilaku karyawan dalam bekerja. Hersey dan Blanchard (1993)
mendefinisikan kinerja sebagai suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan
seseorang untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaannya. Kinerja adalah hasil
seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan
tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang
telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Rivai dan Basri,
2004). Sejalan dengan definisi-definisi sebelumnya, Robbins (1997)
menggambarkan kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan (ability),
motivasi (motivation) dan kesempatan (opportunity).
Definisi kinerja
menurut Gomes (2003,
p142), penilaian prestasi kerja dapat dilakukan berdasarkan deskripsi perilaku
yang spesifik yaitu:
1. Quantity
of work,
jumlah pekerjaan yang dilakukan
dalam suatu periode waktu yang ditentukan.
2. Quality of work,
kualitas kerja yang dicapai
berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
3.
Job knowledge,
luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilan.
4. Creativenss,
5.
keaslian gagasan-gagasan
yang dimunculkan dan
tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
6.
Cooperation,
kesediaan untuk
bekerjasama dengan
orang lain.
7. Dependability,
kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian pekerjaan.
8. Initiative,
semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggungjawabnya.
9.
Personal qualities,
menyangkut kepribadian, kepemimpinan,
keramah-tamahan dan integritas pribadi.
Menurut (Mathis
dan Jackson 2002:78) kinerja pada dasarnya adalah apa yang dikerjakan dan yang
tidak dikerjakan oleh karyawan. Kinerja karyawan mempengaruhi seberapa banyak
mereka memberikan kontribusi kepada organisasi. (Mathis dan Jackson, 2002:8)
lebih lanjut memberikan standar kinerja sesorang yang dilihat kuantitas output,
kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tempat kerja dan sikap
kooperatif. Standar kinerja tersebut ditetapkan berdasarkan kriteria pekerjaan
yaitu menjelaskan apa-apa saja yang sudah diberikan organisasi untuk dikerjakan
oleh karyawannya.
B.
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN
(PERFORMANCE
MEASUREMENT)
Sesuai yang
telah dijelaskan di atas bahwa Standar kinerja perusahaan ditetapkan berdasarkan
kriteria pekerjaan yaitu menjelaskan apa-apa saja yang sudah diberikan organisasi
untuk dikerjakan oleh karyawannya, oleh karena itu kinerja individual dalam
kriteria pekerjaan haruslah diukur dan dilakukan penilaian, dibandingkan dengan
standar yang ada dan hasilnya harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan.
Penilaian
kinerja adalah proses evaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan pekerjaan
mereka ketika dibandingkan dengan satu set standar dan kemudian
mengkomunikasikannya dengan para karyawan (Mathis dan Jackson, 2002:81).
Penilaian kinerja mempunyai dua kegunaan utama. Penilaian pertama adalah
mengukur kinerja untuk tujuan memberikan penghargaan seperti misalnya untuk
promosi. Kegunaan yang lain adalah untuk pengembangan potensi individu (Mathis
dan Jackson, 2002:82).
Adapun tujuan
penilaian kinerja menurut adalah sebagai berikut :
a) Pertanggungjawaban, Apabila standard dan
sasaran digunakan sebagai alat pengukur pertanggungjawaban, maka dasar
untuk pengambilan keputusan kenaikan gaji atau upah, promosi, penugasan khusus,
dan sebagainya adalah kualitas hasil pekerjaan karyawan yang bersangkutan.
b) Pengembangan, Jika standard dan sasaran
digunakan sebagai alat untuk keperluan pengembangan, hal itu mengacu pada
dukungan yang diperlukan karyawan dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Dukungan
itu dapat berupa pelatihan, bimbingan, atau bantuan lainnya.
Setiap
karyawan dalam melaksanakan kewajiban atau tugas merasa bahwa hasil kerja
mereka tidak terlepas dari penilaian atasan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Penilaian kinerja digunakan untuk mengetahui kinerja seorang karyawan.
Menurut (Rivai, 2005 : 55 ) manfaat penilaian kinerja adalah :
a) Manfaat
bagi karyawan yang dinilai antara lain :
·
Meningkatkan motivasi
·
Meningkatka kepuasaan kerja
·
Adanya kejelasan standar hasil yang diharapkan
·
Adanya kesempatan berkomunikasi ke atas
·
Peningkatan pengertian tentang nilai pribadi
b) Manfaat
bagi penilai
·
Meningkatkan kepuasan kerja
·
Untuk mengukur dan mengidentifikasikan
kecenderungan kinerja karyawan
·
Meningkatkan kepuasan kerja baik dari para
manajer ataupun karyawan
·
Sebagai sarana meningkatkan motivasi karyawan
·
Bisa mengidentifikasikan nkesempatan untuk
rotasi karyawan
c) Manfaat
bagi perusahaan
·
Memperbaiki seluruh simpul unit-unit yang ada
dalam perusahaan
·
Meningkatkan kualitas komunikasi
·
Meningkatkan motivasi karyawan secara
keseluruhan
·
Meningkatkan pandangan secara luas menyangkut
tugas yang dilakukan untuk masing-masing karyawan
Unsur-unsur
yang digunakan dalam penilaian kinerja karyawan Menurut adalah sebagai berikut:
a) Prestasi,
Penilaian hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat di hasilkan
karyawan.
b) Kedisiplinan,
Penilaian disiplin dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melakukan
pekerjaan sesuai dengan intruksi yang diberikan kepadanya.
c) Kreatifitas,
Penilaian kemampuan karywan dalam mengembangkan kreativitas untuk menyelesaikan
pekerjaannya sehingga dapat bekerja lebih berdaya guna dan berhasil guna.
d) Bekerja
sama, Penilaian kesediaan karyawan berpartipasi dan bekerja sama dengan
karyawan lain secara vertikal atau horizontal didalam maupun diluar sehingga
hasil pekerjaannya lebih baik.
e) Kecakapan,
Penilaian dalam menyatukan dan melaraskan bermacam-macam elemen yang terlibat
dalam menyusun kebijaksanaan dan dalam situasi manajemen.
f) Tanggung
jawab, Penilaian kesediaan karyawan dalam memper tanggung jawabkan
kebijaksanaannya, pekerjaan dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang
digunakan, serta perilaku pekerjaannya.
Menurut
(Robbins, 2006:687) dalam penilaian kinerja terdapat beberapa pilihan dalam
penentuan mengenai yang sebaiknya melakukan penilaian tersebut antara lain :
a) Atasan
langsung, semua hasil evaluasi kinerja pada tingkat bawah dan menengah pada
umumnya dilakukan oleh atasan langsumg karyawan tersebut.
b)
Rekan sekerja, evaluasi ini merupakan salah satu sumber paling handal dari
penilaian. Alasan rekan sekerja yang tindakan dimana interaksi sehari-hari
memberi pandangan menyeluruh terhadap kinerja dalam pekerjaannya.
c) Pengevaluasi
diri sendiri, mengevaluasi kinerja mereka sendiri apakah sudah konsisiten
dengan nilai-nilai, dengan sukarela dan pemberian kuasa.
d) Bawahan
lansung, evaluasi bawahan langsung dapat memberikan informasi yang tepat dan
rinci mengenai perilaku seorang manajer, karena lazimnya penilaian yang
mempunyai kontak yang sering dinilai.
e) Pendekatan
menyeluruh, pendekatan ini memberikan umpan balik kinerja dari lingkungan penuh
kontas sehari-hari yang mungkin dimiliki karyawan, yang disekitar personal,
ruang surat sampai kepelanggan atasan rekan sekerja.
Soedjono
(2005) menyebutkan 6 (enam) kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur
kinerja karyawan secara individu yakni :
a) Kualitas,
Hasil pekerjaan yang dilakukan mendekati sempurna atau memenuhi tujuan yang
diharapkan dari pekerjaan tersebut.
b) Kuantitas,
Jumlah yang dihasilkan atau jumlah aktivitas yang dapat diselesaikan.
c) Ketepatan
waktu, yaitu dapat menyelesaikan pada waktu yang telah ditetapkan serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas yang lain.
d) Efektivitas,
Pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang ada pada organisasi untuk
meningkatkan keuntungan dan mengurangi kerugian.
e) Kemandirian,
yaitu dapat melaksanakan kerja tanpa bantuan guna menghindari hasil yang
merugikan.
f) Komitmen
kerja, yaitu komitmen kerja antara karyawan dengan organisasinya dan tanggung
jawab karyawan terhadap organisasinya.
Sasaran
kinerja yang menetapkan adalah individual secara spesifik, dalam bidang proyek,
proses, kegiatan rutin dan inti yang akan menjadi tanggung jawab karyawan. Sasaran
kinerja dapat ditetapkan sebagai berikut, pimpinan unit yang bersangkutan
dengan kesempatan bawahannya yaitu para pimpian sub-unit, menyatakan bahwa
sasaran yang harus mereka capai dalam kurun waktu tahun ini misalnya adalah
sasaran bersama dan menjadi sasaran-sasaran kecil bagi tiap bagian dari unit
tersebut.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor
motivasi (motivation). hal ini sesuai dengan pendapat (Keith Davis dalam
Anwar Prabu Mangkunegara, 2005:67) yang merumuskan bahwa :
a) Human Performance =
Ability + Motivation
b) Motivation = Attitude
+ Situation
c) Ability = Knowledge
+ Skill
Pengukuran kinerja perusahaan merupakan suatu alat perencanaan dan sistem
pengendalian manajemen yang bertujuan untuk membantu manajer perusahaan menilai
pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan non finansial.
Pengukuran kinerja perusahaan dilakukan untuk memenuhi tiga maksud. Pertama,
pengukuran kinerja perusahaan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja pemerintah.
Ukuran kinerja dimaksudkan untuk dapat membantu manajer berfokus pada tujuan
dan sasaran program unit kerja. Kedua, ukuran kinerja perusahaan digunakan
untuk pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan. Ketiga, ukuran kinerja
perusahaan dimaksudkan untuk mewujudkan pertanggungjawaban publik dan
memperbaiki komunikasi pelanggan.
Sebagian besar perusahaan telah menyadari kebutuhan akan pengukuran
kinerja dalam perusahaan (‘bottom-line’ performance). Namun pengukuran
tersebut masih dilakukan dengan menggunakan sistem tradisional, yaitu
pengukuran pencapaian finansial yang didasarkan pada pelaporan keuangan.
Padahal, menurut Mulyadi dan Setyawan (1999), ukuran keuangan tidak dapat
menggambarkan kondisi riil perusahaan di masa lalu dan tidak mampu menjadi
pedoman bagi suatu organisasi kearah yang lebih baik, serta hanya berorientasi
jangka pendek. Jadi, sistem pengukuran kinerja finansial perusahaan ini lebih dirancang untuk memenuhi kebutuhan shareholders,
daripada untuk menyediakan informasi dalam membantu pengelolaan suatu
organisasi.
Performance
Measure, Performance Measurement, dan Performance Measurement System
Banyak
orang yang masih bingung mengenai perbedaan dari ketiga istilah di atas, yang
dapat diterjemahkan sebagai berikut:
a. Performance
Measure
Matrik
yang menunjukkan efisiensi dan atau efektifitas dari suatu action
b. Performance
Measurement
Suatu
proses untuk mengukur efisiensi dan atau efektifitas dari suatu action
c. Performance
Measurement
Sekumpulan
matriks dan prosedur yang terstruktur
untuk mengetahui efektivitas dan efesiensi
Pengukuran Kinerja Perusahaan Yang Seimbang
Suatu sistem pengukuran kinerja perusahaan
yang seimbang harus dapat meningkatkan
perhatian dan kesejajaran, mempermudah komunikasi, dan menyiapkan suatu visi
yang jauh ke depan (a forward-looking vision), sehingga semua orang
dapat termotivasi untuk mengubah perilaku mereka agar sejalan dengan tujuan perusahaan
. Suatu sistem pengukuran yang baik haruslah menyeluruh atau komprehensif,
termasuk pengukuran-pengukuran penting dari seluruh bidang operasional maupun
dari semua jenis pengukuran. Sistem tersebut juga harus termasuk pengukuranpengukuran
finansial maupun non finansial, indikator-indikator dari hasil di masa lampau
dan prediktor-prediktor dari kinerja di masa datang, dan pengukuranpengukuran
yang mencakup faktor waktu, biaya dan kualitas.
Parayudha
(2009) menyatakan bahwa desain balanced scorecard mampu meningkatkan
manajemen strategis dan tata kelola dalam perusahaan . Balanced scorecard dapat
menciptakan perilaku manajemen umum yang lebih baik melalui persamaan yang kuat
antara pendekatan yang diusulkan dan desain lainnya, sebagaimana yang
diterapkan dalam sektor komersial.
C.
BALANCED SCORECARD
Defenisi dan Perkembangan Konsep Balanced
Scorecard
Konsep Balanced Scorecard
selanjutnya akan disingkat BSC. BSC adalah pendekatan terhadap strategi
manajemen yang dikembangkan oleh Drs.Robert Kaplan (Harvard Business School)
and David Norton pada awal tahun 1990. BSC berasal dari dua kata yaitu balanced
(berimbang) dan scorecard (kartu skor). Balanced (berimbang) berarti adanya
keseimbangan antara performance keuangan dan non-keuangan, performance jangka
pendek dan performance jangka panjang, antara performance yang bersifat
internal dan performance yang bersifat eksternal. Sedangkan scorecard (kartu
skor) yaitu kartu yang digunakan untuk mencatat skor performance seseorang.
Kartu skor juga dapat digunakan untuk merencanakan skor yang hendak diwujudkan
oleh seseorang di masa depan.
Mula-mula BSC digunakan untuk
memperbaiki sistem pengukuran kinerja eksekutif. Awal penggunaannya kinerja
eksekutif diukur hanya dari segi keuangan. Kemudian berkembang menjadi luas
yaitu empat perspektif, yang kemudian digunakan untuk mengukur kinerja
organisasi secara utuh. Empat perspektif tersebut yaitu keuangan, pelanggan,
proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan.
BSC adalah suatu mekanisme sistem manajemen yang mampu menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam tindakan nyata di lapangan. BSC adalah salah satu alat manajemen yang telah terbukti telah membantu banyak perusahaan dalam mengimplementasikan strategi bisnisnya.
BSC adalah suatu mekanisme sistem manajemen yang mampu menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam tindakan nyata di lapangan. BSC adalah salah satu alat manajemen yang telah terbukti telah membantu banyak perusahaan dalam mengimplementasikan strategi bisnisnya.
Keunggulan Balanced Scorecard
Dalam
perkembangannya BSC telah banyak membantu perusahaan untuk sukses mencapai
tujuannya. BSC memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki sistem strategi
manajemen tradisional. Strategi manajemen tradisional hanya mengukur kinerja
organisasi dari sisi keuangan saja dan lebih menitik beratkan pengukuran pada
hal-hal yang bersifat tangible, namun perkembangan bisnis menuntut untuk
mengubah pandangan bahwa hal-hal intangible juga berperan dalam kemajuan
organisasi. BSC menjawab kebutuhan tersebut melalui sistem manajemen strategi
kontemporer, yang terdiri dari empat perspektif yaitu: keuangan, pelanggan,
proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan. Keunggulan
pendekatan BSC dalam sistem perencanaan strategis (Mulyadi, 2001, p.18) adalah
mampu menghasilkan rencana strategis, yang memiliki karakteristik sebagai
berikut (1) komprehensif, (2) koheren, (3)seimbang dan (4) terukur
Perspektif dalam Balanced
Scorecard
Adapun
perspektif-perspektif yang ada di dalam BSC adalah sebagai berikut:
1.
Perspektif Keuangan
BSC memakai
tolak ukur kinerja keuangan seperti laba bersih dan ROI, karena tolak ukur
tersebut secara umum digunakan dalam perusahaan untuk mengetahui laba. Tolak
ukur keuangan saja tidak dapat menggambarkan penyebab yang menjadikan perubahan
kekayaan yang diciptakan perusahaan atau organisasi (Mulyadi dan Johny Setyawan,
2000).
Balanced
Scorecard adalah suatu metode pengukuran kinerja yang di dalamnya ada
keseimbangan antara keuangan dan non-keuangan untuk mengarahkan kinerja
perusahaan terhadap keberhasilan. BSC dapat menjelaskan lebih lanjut tentang
pencapaian visi yang berperan di dalam mewujudkan pertambahan kekayaan tersebut
(Mulyadi dan Johny Setyawan, 2000) sebagai berikut:
1. Peningkatan customer 'yang puas sehingga
meningkatkan laba (melalui peningkatan revenue).
2. Peningkatan produktivitas dan komitmen
karyawan sehingga meningkatkanlaba (melalui peningkatan cost effectiveness).
3. Peningkatan kemampuan perasahaan untuk
menghasilkan financial returns dengan mengurangi modal yang digunakan atau
melakukan investasi daiam proyek yang menghasilkan return yang tinggi.
Di dalam
Balanced Scorecard, pengukuran finansial mempunyai dua peranan penting, di mana
yang pertama adalah semua perspektif tergantung pada pengukuran finansial yang
menunjukkan implementasi dari strategi yang sudah direncanakan dan yang kedua
adalah akan memberi dorongan kepada 3 perspektif yang lainnya tentang target
yang harus dicapai dalam mencapai tujuan organisasi.
Menurut Kaplan dan Norton, siklus bisnis terbagi 3 tahap, yaitu: bertumbuh (growth), bertahan (sustain), dan menuai (harvest), di mana setiap tahap dalam siklus tersebut mempunyai tujuan fmansial yang berbeda. Growth merupakan tahap awal dalam siklus suatu bisnis. Pada tahap ini diharapkan suatu bisnis memiliki produk baru yang dirasa sangat potensial bagi bisnis tersebut.
Menurut Kaplan dan Norton, siklus bisnis terbagi 3 tahap, yaitu: bertumbuh (growth), bertahan (sustain), dan menuai (harvest), di mana setiap tahap dalam siklus tersebut mempunyai tujuan fmansial yang berbeda. Growth merupakan tahap awal dalam siklus suatu bisnis. Pada tahap ini diharapkan suatu bisnis memiliki produk baru yang dirasa sangat potensial bagi bisnis tersebut.
Untuk itu,
maka pada tahap growth perlu dipertimbangkan mengenai sumber daya untuk
mengembangkan produk baru dan meningkatkan layanan, membangun serta
mengembangkan fasilitas yang menunjang produksi, investasi pada sistem,
infrastruktur dan jaringan distribusi yang akan mendukung terbentuknya hubungan
kerja secara menyeluruh dalam mengembangkan hubungan yang baik dengan
pelanggan. Secara keseluruhan tujuan fmansial pada tahap ini adalah mengukur
persentase tingkat pertumbuhan pendapatan, dan tingkat pertumbuhan penjualan di
pasar sasaran.
Tahap
selanjutnya adalah sustain (bertahan), di mana pada tahap ini timbul pertanyaan
mengenai akan ditariknya investasi atau melakukan investasi kembali dengan
mempertimbangkan tingkat pengembalian yang mereka investasikan. Pada tahap ini
tujuan fmansial yang hendak dicapai adalah untuk memperoleh keuntungan.
Berikutnya suatu usaha akan mengalami suatu tahap yang dinamakan harvest
(menuai), di mana suatu organisasi atau badan usaha akan berusaha untuk
mempertahankan bisnisnya. Tujuan finansial dari tahap ini adalah untuk untuk
meningkatkan aliran kas dan mengurangi aliran dana.
2.
Perspektif Pelanggan
Dalam
perspektif pelanggan, perusahaan perlu terlebih dahulu menentukan segmen pasar
dan pelanggan yang menjadi target bagi organisasi atau badan usaha.
Selanjutnya, manajer harus menentukan alat ukur yang terbaik untuk mengukur
kinerja dari tiap unit opetasi dalam upaya mencapai target finansialnya.
Selanjutnya apabila suatu unit bisnis ingin mencapai kinerja keuangan yang
superior dalam jangka panjang, mereka harus menciptakan dan menyajikan suatu
produk baru/jasa yang bernilai lebih baik kepada pelanggan mereka (Kaplan, dan
Norton, 1996).
Produk dikatakan bernilai apabila manfaat yang diterima produk lebih tinggi daripada biaya perolehan (bila kinerja produk semakin mendekati atau bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan dipersepsikan pelanggan). Perusahaan terbatas untuk memuaskan potential customer sehingga perlu melakukan segmentasi pasar untuk melayani dengan cara terbaik berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang ada. Ada 2 kelompok pengukuran dalam perspektif pelanggan, yaitu:
Produk dikatakan bernilai apabila manfaat yang diterima produk lebih tinggi daripada biaya perolehan (bila kinerja produk semakin mendekati atau bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan dipersepsikan pelanggan). Perusahaan terbatas untuk memuaskan potential customer sehingga perlu melakukan segmentasi pasar untuk melayani dengan cara terbaik berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang ada. Ada 2 kelompok pengukuran dalam perspektif pelanggan, yaitu:
1.
Kelompok pengukuran inti icore measurement group).
Kelompok
pengukuran ini digunakan untuk mengukur bagaimana perusahaan memenuhi kebutuhan
pelanggan dalam mencapai kepuasan, mempertahankan, memperoleh, dan merebut
pangsa pasar yang telah ditargetkan. Dalam kelompok pengukuran inti, kita
mengenal lima tolak ukur, yaitu: pangsa pasar, akuisisi pelanggan (perolehan
pelanggan), retensi pelanggan (pelanggan yang dipertahankan), kepuasan
pelanggan, dan profitabilitas pelanggan.
2.
Kelompok pengukuran nilai pelanggan {customer value
proposition).
Kelompok
pengukuran ini digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mengukur nilai
pasar yang mereka kuasai dan pasar yang potensial yang mungkin bisa mereka
masuki. Kelompok pengukuran ini juga dapat menggambarkan pemacu kinerja yang
menyangkut apa yang harus disajikan perusahaan untuk mencapai tingkat kepuasan,
loyalitas, retensi, dan akuisisi pelanggan yang tinggi. Value proposition
menggambarkan atribut yang disajikan perusahaan dalam produk/jasa yang dijual
untuk menciptakan loyalitas dan kepuasan pelanggan. Kelompok pengukuran nilai
pelanggan terdiri dari:
a. Atribut
produk/jasa, yang meliputi: fungsi, harga, dan kualitas produk.
b. Hubungan dengan pelanggan, yang meliputi: distribusi produk kepada
b. Hubungan dengan pelanggan, yang meliputi: distribusi produk kepada
pelanggan, termasuk respon dari perusahaan,
waktu pengiriman, serta
bagaimana perasaan pelanggan setelah membeli
produk/jasa dari perusahaan
yang bersangkutan.
d. Citra dan
reputasi, yang menggambarkan faktor intangible bagi perusahaan
untuk
menarik pelanggan untuk berhubungan dengan perusahaan, atau membeli produk.
3. PerspektifProses Bisnis
Internal
Perspektif
proses bisnis internal menampilkan proses kritis yang memungkinkan unit bisnis
untuk memberi value proposition yang mampu menarik dan mempertahankan
pelanggannya di segmen pasar yang diinginkan dan memuaskan harapan para
pemegang saham melalui flnancial retums (Simon, 1999).
Tiap-tiap perasahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai yang unik bagi pelanggannya. Secara umum, Kaplan dan Norton (1996) membaginya dalam 3 prinsip dasar, yaitu:
Tiap-tiap perasahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai yang unik bagi pelanggannya. Secara umum, Kaplan dan Norton (1996) membaginya dalam 3 prinsip dasar, yaitu:
a.
Proses inovasi.
Proses
inovasi adalah bagian terpenting dalam keseluruhan proses produksi. Tetapi ada
juga perusahaan yang menempatkan inovasi di luar proses produksi. Di dalam
proses inovasi itu sendiri terdiri atas dua komponen, yaitu: identifikasi
keinginan pelanggan, dan melakukan proses perancangan produk yang sesuai dengan
keinginan pelanggan. Bila hasil inovasi dari perusahaan
tidak sesuai dengan keinginan pelanggan, maka produk tidak akan mendapat tanggapan positif dari pelanggan, sehingga tidak memberi tambahan pendapatan bagi perasahaan bahkan perasahaan haras mengeluarkan biaya investasi pada proses penelitian dan pengembangan.
tidak sesuai dengan keinginan pelanggan, maka produk tidak akan mendapat tanggapan positif dari pelanggan, sehingga tidak memberi tambahan pendapatan bagi perasahaan bahkan perasahaan haras mengeluarkan biaya investasi pada proses penelitian dan pengembangan.
b.
Proses operasi.
Proses
operasi adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan, mulai dari saat penerimaan
order dari pelanggan sampai produk dikirim ke pelanggan. Proses operasi
menekankan kepada penyampaian produk kepada pelanggan secara efisien, dan tepat
waktu. Proses ini, berdasarkan fakta menjadi fokus utama dari sistem pengukuran
kinerja sebagian besar organisasi.
c.
Pelayanan pumajual.
Adapun
pelayanan purna jual yang dimaksud di sini, dapat berupa garansi, penggantian
untuk produk yang rusak, dll.
4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perspektif
ini menyediakan infrastruktur bagi tercapainya ketiga perspektif sebelumnya,
dan untuk menghasilkan pertumbuhan dan perbaikan jangka panjang.
Penting bagi suatu badan usaha saat melakukan investasi tidak hanya pada peralatan untuk menghasilkan produk/jasa, tetapi juga melakukan investasi pada infrastruktur, yaitu: sumber daya manusia, sistem dan prosedur. Tolak ukur kinerja keuangan, pelanggan, dan proses bisnis internal dapat mengungkapkan kesenjangan yang besar antara kemampuan yang ada dari manusia, sistem, dan prosedur. Untuk memperkecil kesenjangan itu, maka suatu badan usaha harus melakukan investasi dalam bentuk reskilling karyawan, yaitu: meningkatkan kemampuan sistem dan teknologi informasi, serta menata ulang prosedur yang ada.
Penting bagi suatu badan usaha saat melakukan investasi tidak hanya pada peralatan untuk menghasilkan produk/jasa, tetapi juga melakukan investasi pada infrastruktur, yaitu: sumber daya manusia, sistem dan prosedur. Tolak ukur kinerja keuangan, pelanggan, dan proses bisnis internal dapat mengungkapkan kesenjangan yang besar antara kemampuan yang ada dari manusia, sistem, dan prosedur. Untuk memperkecil kesenjangan itu, maka suatu badan usaha harus melakukan investasi dalam bentuk reskilling karyawan, yaitu: meningkatkan kemampuan sistem dan teknologi informasi, serta menata ulang prosedur yang ada.
Perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan mencakup 3 prinsip kapabilitas yang terkait dengan
kondisi intemal perusahaan, yaitu:
1.
Kapabilitas pekerja.
KapabiLitas
pekerja adalah merupakan bagian kontribusi pekerja pada perusahaan. Sehubungan
dengan kapabilitas pekerja, ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh manajemen:
a. Kepuasan
pekerja.
Kepuasan
pekerja merupakan prakondisi untuk meningkatkan produktivitas, tanggungjawab,
kualitas, dan pelayanan kepada konsumen. Unsur yang dapat diukur dalam kepuasan
pekerja adalah keterlibatan pekerja dalam mengambil keputusan, pengakuan, akses
untuk mendapatkan informasi, dorongan untuk bekerja kreatif, dan menggunakan
inisiatif, serta dukungan dari atasan.
b. Retensi
pekerja.
Retensi
pekerja adalah kemampuan imtuk mempertahankan pekerja terbaik dalam perusahaan.
Di mana kita mengetahui pekerja merupakan investasi jangka panjang bagi
perusahaan. Jadi, keluamya seorang pekerja yang bukan karena keinginan
perusahaan merupakan loss pada intellectual capital dari perusahaan. Retensi
pekerja diukur dengan persentase turnover di perusahaan.
c.
Produktivitas pekerja.
Produktivitas
pekerja merupakan hasil dari pengaruh keseluruhan dari peningkatan keahlian dan
moral, inovasi, proses internal, dan kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah untuk
menghubungkan output yang dihasilkan oleh pekerja dengan jumlah pekerja yang
seharusnya untuk menghasilkan output tersebut.
2. Kapabilitas sistem informasi.
2. Kapabilitas sistem informasi.
Adapun yang
menjadi tolak ukur untuk kapabilitas sistem inforaiasi adalah tingkat
ketersediaan informasi, tingkat ketepatan informasi yang tersedia, serta jangka
waktu untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
3. Iklim organisasi
Iklim
organisasi yang mendorong timbulnya motivasi, dan pemberdayaan adalah penting
untuk menciptakan pekerja yang berinisiatif.
D.
BALANCED SCORECARD
Keunggulan Balanced Scorecard
Balanced Scorecard memiliki
keunggulan yang menjadikan sistem manajemen strategi sekarang berbeda secara
signifikan dengan sistem manajemen strategi dalam sistem manajemen tradisional.
Keunggulan itu menurut Mulyadi
(2001 : 18)
1.
Komprehensif
Balanced
Scorecard memperluas perspektif yang dicakup dalam perencanaan strategi dari
yang sebelumnya terbatas hanya pada perspektif keuangan, meluas menjadi tiga
perspektif yang lain : costumer, proses bisnis internal, serta pertumbuhan dan
pembelajaran.
Dengan perluasan perspektif
rencana strategi keperspektif non keuangan akan memberikan manfaat sebagai
berikut:
a. Menjadikan kinerja keuangan
yang berlipat ganda dan berjangka penjang
b. Memampukan perusahaan untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks.
b. Memampukan perusahaan untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks.
Untuk
menghasilkan keberhasilan dalam kinerja keuangan, Balanced Scorecard akan
memotivasi personel untuk mengarahkan usahanya kesasaran–sasaran strategi yang
menjadi penyebab utama berhasilnya kinerja keuangan. Perusahaan harus mampu
menghasilkan produk dan jasa yang menghasilkan value yang terbaik bagi costumer
yang dihasilkan dari personel yang produktif dan berkomitmen. Kinerja seperti
diatas akan memberikan kinerja keuangan yang sesungguhnya, yang berasal dari
usaha nyata dalam bisnis, serta memberikan kinerja keuangan yang berlipat ganda
dan berjangka panjang.
2. Koheren
2. Koheren
Balanced
Scorecard akan membangun hubungan sebab akibat diantara beebagai sasaran
strategi yang dihasilkan dalam perencanaan strategi. Setiap sasaran strategi
harus mempunyai hubungan kausal dengan sasaran keuangan, baik secara langsung
maupun tidak secara langsung. Sebagai contoh, sasaran penyebab diwujudkannya
sasaran strategi diperspektif proses bisnis intern atau costumer akan menjadi
penyebab secara langsung diwujudkannya sasaran strategi diperspektif keuangan
karena perusahaan adalah institusi pencipta kekayaan, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
3. Seimbang
3. Seimbang
Balanced Scorecard
akan memberikan gambaran mengenai tujuan dan cara pencapaian tujuan tersebut
secara seimbang, terutama jika dikaitkan antara perspektif satu dengan yang
lainnya. Masing–masing perspektif mempunyai suatu tinjauan pokok yang hendak
dicapai:
a. Financial returns yang berlipat ganda dan berjangka panjang adalah
tujuan dari perspektif keuangan.
b. Produk dan jasa yang mampu menghasilkan value yang terbaik bagi
costumer adalah tujuan dari perspektif pelanggan.
c. Proses yang produktif dari cost effective adalah tujuan dari
perspektif bisnis / intern.
d. Sumber daya manusia yang produktif dan berkomitmen adalah tujuan dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
d. Sumber daya manusia yang produktif dan berkomitmen adalah tujuan dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
4. Terukur
Keterukuran
sasaran strategi yang diabaikan oleh sistem perencanaan strategi menjanjikan
ketercapaian berbagai sasaran strategi yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
Balanced Scorecard mengukur sasaran– sasaran strategi yang sulit untuk diukur.
Sasaran–sasaran strategi diperspektif costumer, proses bisnis/intern, serta
pembelajaran dan pertumbuhan merupakan sasaran yang tidak mudah diukur, namun
dalam pendekatan Balanced Scorecard, sasaran diketiga perspektif non keuangan
tersebut ditentukan ukurannya agar dapat dikelola sehingga diwujudkan. Dengan
demikian keterukuran sasaran strategi non keuangan akan menjanjikan perwujudan
kinerja keuangan yang berlipat ganda dan berjangka panjang.
Kelemahan Balanced Scorecard
Balanced Scorecard merupakan
perkembangan baru dalam dalam suatu manajemen perusahaan yaitu sebagai sarana
pengukuran kinerja yang telah dicapai, dan harus kita sadari bahwa masih banyak
permasalahan yang belum dapat dipecahkan dengan Balanced Scorecard, misalnya :
1. Balanced Scorecard belum dapat menetapkan
secara tepat sistem kompensasi yang biasanya merupakan tindak lanjut dari hasil
penilaian kinerja.
2. Bentuk organisasi yang cocok untuk
perkembangan proses dalam organisasi. Empat perspektif dalam Balanced Scorecard
merupakan indikator yang saling berpengaruh (hubungan sebab akibat), sehingga
diperlukan suatu wadah struktur yang dapat memberikan umpan balik kepada semua
ini.
3.
Belum adanya standart ukuran yang baku terhadap hasil penilaian kinerja
perusahaan dengan metode Balanced Scorecard
DAFTAR PUSTAKA
Kaplan,
Robert S. dan David P. Norton, 1996. The Balanced Scorecard : Translating
Strategy Into Action, Harvard Business School Press: 150161
Kaplan,
Robert S. dan David P. Norton, 1996. Using The Balanced Scorecard As A
Strategic
No comments:
Post a Comment