Menurut Micheal Hammer,
salah satu dari pelopor rekayasa-ulang, mendifinisikan rekayasa-ulang bisnis
proses sebagai:
“The fundamental rethinking and radical redesign of business process
to achieve dramatic improvements in critical,
contemporary measures of performance, such
cost, quality, service and speed.” (Hammer, 1993) dimana perubahan radikal yang cepat dalam proses
bisnis yang dicapai dengan merancang ulang proses dari awal dan kemudian
menambahkan otomasi serta menggunakan teknologi informasi untuk mendapatkan
perbaikan terobosan dalam kinerja
Definisi diatas adalah yang paling banyak dijumpai dan dapat ditemukan
di sejumlah jurnal maupun artikel. Terdapat
empat kata kunci penting
dalam definisi diatas, seperti
fundamental, radikal,
dramatis, dan proses.
1.Fundamental
Menurut Hammer (1993, p27) rekayasa-ulang
perusahaan pertama-tama
menentukan apa yang harus dilakukan
perusahaan, baru kemudian bagaimana melakukannya.
Terdapat pertanyaan fundamental yang dapat membantu untuk menemukan tindakan-tindakan yang sudah usang,
tidak berfungsi dengan baik, dan
tidak sesuai lagi yaitu: mengapa
kita berbuat seperti apa yang kita perbuat? mengapa
berbuat dengan cara seperti yang kita kerjakan
sekarang?
2.
Radikal
Rekayasa ulang adalah tentang menciptakan bisnis bukan meningkatkan bisnis, memperkuat
bisnis atau modifikasi bisnis.(Hammer, 1993, p28) Merancang
ulang secara radikal disini ialah mendesain
kembali mulai dari awal atau sama sekali baru, tidak memperbaiki yang sudah ada atau melakukan
tambal sulam. Merancang perubahaan radikal
yaitu mengabaikan semua sturktur dan prosedur perusahaan
yang ada dan kemudian merancang kembali semuanya mulai dari awal. Buang yang
ada dan ganti dengan yang sama sekali baru.
3. Dramatis
Rekayasa-ulang atau reengineering bukanlah suatu perbaikan
yang dilakukan sedikit demi sedikit
guna mendapatkan keuntungan marjinal semata, melainkan digunakan untuk memperolah
keuntungan yang melompat jauh kedepan. Hammer
mengutarakan (1993, p28)
bahwa
rekayasa
ulang
digunakan
hanya
jika
ada
kebutuhan untuk perubahan yang hebat. Peningkatan
marjinal membutuhkan upaya penyesuaian secara terus-menerus sedangkan peningkatan dramatis menuntut perubahan yang besar terhadap
kinerja perusahaan dan menggantinya dengan sesuatu
yang baru.
4. Proses
Hammer menyatakan (1993,
p30) bahwa banyak
perusahaan berfokus kepada tugas, kewajiban, orang dan struktur organisasi daripada memperhatikan
prosesnya. Selama beberapa
decade pemikiran Adam Smith, yaitu memecah-mecah perkerjaan menjadi kecil-kecil
sehingga tercipta para spesialis sudah banyak diterapkan diperusahaan, oleh sebab itulah mengapa identifikasi proses-proses perusahaan
menjadi langkah yang penting dalam rekayasa ulang. Proses bisnis diartikan sebagai sekumpulan aktivitas yang meliputi
satu jenis input
atau lebih dan menciptakan output yang bernilai terhadap
pelanggan.
Empat karakteristik yang
menjadi tanda bagi perusahaan untuk malakukan tindakan rekayasan ulang bisnis
proses
·
Pervasiveness berarti karyawan relative pasif, dan membiarkan perubahan
itu terjadi, dan menganggap itu bukan dari bagiannya.
·
Thirst for Vision berarti karyawan mencari-cari arah dari perubahan itu,
bila perubahan tidak diinformasikan secara jelas, maka karyawan akan bimbang
dan mencari arahan, sangat buruk bila arahan yang diterima justru berlawanan
arah.
·
Violation of Trust justru terjadi pada sisi leader, leader yang tidak
memahami dan tidak sepakat biasanya menyalah gunakan kepercayaan dan kemudian
mengingkari tanggung jawab yang diembannya.
·
Burnout, merupakan gambaran dimana karyawan bingung dan gelisah, karena
merespon setiap perubahan namun responnya seakan-akan tanpa hasil karena tidak
adanya ukuran yang memadai untuk menilai kinerja mereka atas perubahan yang
terjadi.
Bila keempat
karakteristik tersebut muncul dan menjadi ciri dalam sebuah perusahaan, maka
pilihannya hanya ada dua, yaitu melakukan rekayasa ulang bisnis proses, atau
mati pelan-pelan. Dan ketika memilih harus berubah, waspadai berbagai penyebab
kegagalannya.
KONSEP
REKAYASA ULANG BISNIS PROSES
Banyak persepsi salah yang beredar di masyarakat,
khususnya dikalangan bisnis mengenai business
process reengineering atau rekayasa-ulang. Banyak dari mereka yang mendengar kata tersebut langsung melompat pada kesimpulan
bahwa rekayasa-ulang sama sekali
serupa dengan program-program
peningkatan bisnis lain seperti downsizing, restructuring, reorganizing atau automation.
Rekayasa-ulang tidak sama dengan
automation, karena automation sekadar menggunakan peralatan
yang lebih canggih yang digerakan
oleh komputer. Hammer mengutarakan (1993, p43) bahwa
otomisasi hanya menghasilkan cara-cara yang
lebih efisien
dalam melakukan hal-hal yang salah. Rekayasa-ulang bisnis proses adalah melakukan pengubahan proses-proses yang ada, tidak memperbaharui proses- proses yang ada atau kuno dengan komputer.
Rekayasa-ulang tidak sama dengan restructuring atau downsizing. Istilah
itu diartikan sebagai pengurangan kapasitas. Pengurangan kapasitas ini berfokus kepada
pengurangan sumber daya manusia. Sedangkan rekayasa-ulang terfokus pada bagaimana suatu proses kerja berlangsung dan
mengeliminasi proses kerja yang
tidak diperlukan sehingga
proses kerja menjadi lebih baik.
Rekayasa-ulang juga tidak
sama dengan quality improvement atau total quality management
(TQM). Program-program kualitas bekerja dalam kerangka proses-proses yang ada dalam perusahaan dan berupaya meningkatkannya
secara menanjak. Sedangkan
rekayasa-ulang bisnis proses tidak bekerja
untuk
meningkatkan proses-proses itu melainkan dengan membuangnya
dan menggantikannya dengan
sesuatu yang sama sekali
baru.
Table 2.1 Process Improvement (TQM)
versus Process Innovation (BPR)
|
|
Improvement
|
Innovation
|
|
Level of Change
|
Incremental
|
Radical
|
|
Starting Point
|
Existing Process
|
Clean Slate
|
|
Frequency of Change
|
One-time/Continuous
|
One-time
|
|
Time Required
|
Short
|
Long
|
|
Participation
|
Bottom-Up
|
Top-Down
|
|
Typical Scope
|
Narrow, within functions
|
Broad, cross-functional
|
|
Risk
|
Moderate
|
High
|
|
Primary Enabler
|
Statistical Control
|
Information
Technology
|
|
Type of Change
|
Cultural
|
Cultural/Structural
|
Sumber: Davenport, 1993,
p11
Rekayasa-ulang bisnis proses bukan merupakan reorganizing. Reorganizing lebih banyak berfokus
kepada pengaturan kembali struktur
organisasinya, dan biasanya menimbulkan pengurangan pegawai. Rekayasa-ulang
bisnis proses melihat masalah-masalah yang terjadi bukan
akibat
dari
struktur-struktur organisasi melainkan berasal dari struktur-struktur proses binis mereka lakukan.
Hammer (1993,
p45) mengutarakan bahwa rekayasa
ulang adalah memulai lagi
dengan selembar kertas kosong. Menurut Manganelli (1994, pp 7-20) rekayasa- ulang adalah pembentukan ulang strategi yang radikal dan cepat, nilai tambah dari proses bisnis, juga
sistem, kebijakan struktur organisasi
yang
mendukungnya, dimana bertujuan untuk mengoptimalkan
alur kerja dan produktifitas di suatu
organisasi. Sedangkan menurut Peppard (2000, p22)
rekayasa-ulang
bertujuan
mencapai perbaikan-perbaikan langkah dalam kinerja dengan cara mendesain ulang proses-proses dimana organisasi itu beroperasi.
Bisa dilihat
dari ketiga definisi rekayasa-ulang
yang telah diutarakan, bahwa konsep yang paling mendasar dari rekayasa-ulang
adalah berpikir ulang, mulai dari
nol, dan mendesain ulang proses-proses
bisnis yang ada.
Hal-hal yang utama dalam rekayasa-ulang ialah:
1. Mulai sama sekali dari permulaan (baru).
2. Perubahan
adalah dalam prosesnya.
3. Menolak kebijaksanaan lama
4. Menolak teori dan paradigma industri Adam Smith yaitu division
of labour,
economy of scale, dan hierarchy of control.
5. Menciptakan
pendekatan baru dalam struktur proses yang sama sekali berlainan
dengan
proses yang lama.
6. Mencari terobosan dan perbaikan secara
radikal, tidak hanya Menanjak perlahan.
TAHAPAN DALAM REKAYASA ULANG
BISNIS PROSES
Menurut Champy “The only way we are going to
deliver on the full promise of reengineering is
to
start
to
reengineering management-by reengineering ourselves.” (Champy, 2000). Metode tertentu perlu dikembangkan
untuk melakukan rekaysa-ulang,
dengan tujuan untuk mempercepat
waktu pelaksanaan dan meningkatkan mutu dari rekayasa-ulang
itu sendiri. Banyak terdapat metode atau tahapan-tahapan rekayasa-ulang
proses bisnis yang dapat membantu pelaksanaan
rekayasa-ulang seperti: teknik rekayasa-ulang menurut S.L. Tan, teknik rekayasa-
ulang menurut Manganelli, teknik tahapan rekayasa-ulang menurut Davenport
and Short dan banyak lagi. Penulis
dalam
penelitian
ini
akan
menjabarkan
metode tahapan seperti
diatas, yang kemudian
akan memilih salah satu untuk dijadikan pedoman dalam melakukan rekayasa-ulang di bab selanjutnya.
kepastian bahwa perbaikan yang berarti dalam
suatu proses yang sedang berlangsung adalah mutlak (S.L. Tan, 1994, pp 37-41) terdapat lima dasar yang dapat digunakan
untuk rekaysa-ulang proses bisnis.
1. Memahami proses
yang sedang berlangsung.
Langkah pertama adalah mendokumentasi alur proses bisnis yang terjadi saat
ini sampai dengan memetakan interaksi dari unit-unit yang melakukan
proses dalam level organisasi. Alur proses dapat menggambarkan hubungan
masukan dan keluaran antara pemasok, unit organisasi dan pelanggan. Pemahaman akan proses
yang ada atau berlangsung
secara
menyeluruh akan memberikan
akar
yang
kuat
dalam
membuat rancangan proses-proses yang baru.
2. Mencari titik lemah proses saat ini.
Tahap ini merupakan
tahap kritis dimana asumsi-asumsi terdahulu akan dipertanyakan.
Untuk mendorong solusi yang
kreatif, terdapat serangkaian pertanyaan perlu ditanyakan:
Mengapa prestasi proses yang
sedang berlangsung hanya seperti sekarang? Apakah ada kegiatan
dalam proses sekarang yang tidak memberikan
nilai yang berarti? Apakah
ada kegiatan yang hilang
dalam proses yang dapat memberikan
nilai tambah? Unit organisai mana yang seharusnya
terlibat atau tidak terlibat
dalam proses?
3. Identifikasi alternatif penyelesaian.
Tahap ini, mencari alternatif penyelesaian yang dapat memberikan
perbaikan yang berarti melalui pendekatan kreatif.
Hal ini berarti melanggar serta mengabaikan model-model, peraturan-peraturan dan tata-tertib yang berlaku. Kecuali mengabaikan paradigma yang sudah
lama, proses baru akan mudah diperbaiki. Dalam pembuatan alternatif, sebaiknya dibuatkan perancangan yang berbeda dari yang
sudah ada. Alternatif yang baru harus memberikan suatu solusi kepada masalah yang terjadi.
4. Mencari informasi yang diperlukan untuk mendukung
proses rekayasa-ulang.
Informasi merupakan
kunci dalam
menjalankan fungsi pada proses yang baru. Pengujian dan penilaian terhadap informasi
diantara unit-unit organisasi sangatlah penting guna mendukung
proses yang baru. Sehingga saluran komunikasi informasi yang terbaiklah yang patut dipertimbangkan.
5. Melakukan
tes kelayakan terhadap
rancangan proses yang baru.
Langkah akhir dari tahapan
rekayasa-ulang proses binis menurut Tan adalah
indentifikasi sumber-sumber
tambahan seperti sumber daya manusia, dan sumber keuangan. Walaupun formulasi dari proses baru seharusnya
tidak dihambat oleh keterbatasan sumber-sumber daya yang ada, akan tetapi
sebagian besar organisasi
lebih mengutamakan menilai kelayakan dari penerapan proses baru tersebut
dari sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu sangatlah penting
untuk melakukan tes kelayakan sebelum proses baru yang direkomendaikan
akan diterapkan.
Menurut Manganelli (1994, pp.265-281) terdapat
lima tahapan didalam
rekayasa-ulang proses bisnis, yaitu:
1. Persiapan.
Tujuan dari tahap ini adalah
untuk mengerahkan, mengorganisasikan, dan mendayakan ornag yang akan menggunakan rekayasa-ulang. Tahap persiapan ini menghasilkan suatu hak untuk suatu perubahan, struktur organisasi
dan
merencanakan suatu kelompok kerja rekayasa-ulang, serta suatu rencana
pekerjaan.
Pertanyaan-pertanyaan sebagai kunci utama dalam langkah persiapan
ini adalah: Objective dan harapan apa yang ingin dicapai dari rekayasa-ulang. Apakah tujuan
utama dari rekaya-ulang
tersebut. Siapakah yang termasuk dalam tim yang
melaksanakan rekayasa-ulang ini. Keahlian
dan pengetahuan apa yang dibutuhkan oleh tim dalam pelaksanaan rekayasa-ulang. Bagaimana cara berkomunikasi
dengan para pegawai guna mendapatkan dukungan dari pelaksanaan proses rekayasa-ulang.
2. Identifikasi.
Tujuan dari tahap ini adalah untuk membangun dan megerti suatu model proses
yang berdasarkan orientasi terhadap
konsumen dari suatu bisnis. Tahap identifikasi menghasilkan: Pertama, definisi
konsumen, prose-proses dalam perusahaan,
pengukuran suatu pelaksanaan dan suatu keberhasilan rekayasa-ulang. Kedua, identifikasi atas kegiatan penambahan nilai tambah atas pelaksanaan rekayasa-ulang. Ketiga identifikasi sumber daya manusia. Dan ketiga adalah identifikasi
proses- proses yang akan direkayasa-ulang.
3. Visi.
Tujuan dari tahap
ini adalah untuk membangun suatu visi atas proses yang
dapat diandalkan untuk meraih suatu terobosan baru. Dalam tahapan ini akan didapatkan komponen-komponen proses yang ada sekarang, seperti: organisasi,
sistem dan arus informasi. Selain daripada itu dalam tahapan ini juga akan
menghasilkan pengukuran perbandigan dari hasil proses
yang ada dengan yang
akan diterapkan. Kemudian tahapan ini juga memberikan suatu definisi atas perubahan-perubahan apa yang dibutuhkan serta pembabaran
terhadap visi proses yang baru.
4. Solusi.
Tahap ini dibagi
atas dua bagian,
yaitu:
4.1
Perancangan Teknik (Technical Design)
Tujuan dari tahapan
ini adalah untuk merinci dimensi teknik dari suatu
proses baru. Tahap ini menghasilkan: Pertama, suatu gambaran akan suatu teknologi, standar, prosedur, sistem, dan pengendalian
dari apa yang dikerjakan oleh proses rekayasa-ulang.
Pertanyaan-pertanyaan kunci yang dapat membantu mencapai
tujuan diatas, yaitu: Teknologi
apa yang dibutuhkan
oleh rekayasa-ulang proses bisnis. Bagaimana
cara untuk teknologi ini dapat digunakan dengan tepat
sesuai kebutuhan. Bagaimana interaksi teknologi dengan pengguna
akhirnya.
4.2 Perancangan Sosial (Social design)
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk merinci
dimesi social dari suatu proses yang baru. Di tahapan ini akan memberikan
gambaran dari organisasi, susunan pegawai, pekerjaan, jejang-karir, dan insetif yang dihasilkan dari
proses rekayasa-ulang. Gambaran kedua yang akan dihasilkan adalah bagaimana interaksi antara sosial komponen dengan
teknologi yang digunakan. Selain itu juga memberikan gambaran untuk merancang
tatanan – tatanan seperti
struktur organisasi, sumber daya manusia,
pendidikan atau pelatihan pegawai, dan penempatan sumber-daya manusia
didalam organisasi. Terdapat pertanyan-pertanyaan yang dapat membantu tahapan
perancangan social (Social
Design), seperti: Latar-belakang pendidikan apa yang dibutuhkan oleh pelaksana rekayasa-ulang proses bisnis. Kesempatan
apa yang dihadapai
sekarang. Apa yang dapat dihasilkan oleh tim rekayasa-
ulang dalam kurun waktu tertentu.
Sumber daya manusia
yang seperti apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan rekayasa-ulang. Tujuan dan bentuk pengukuran apa yang
dapatdigunakan.
Program-program pendidikan dan latihan seperti apa yang
dapat
mendukung rekayasa-ulang. Apa yang dimaksud dengan penolakan rekayasa-ulang dan apa kategori dari penolakan
tersebut.
5. Perubahan
bentuk (Transformation)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk mencapai
visi proses dengan cara penerapan perancangan proses yang dihasilkan pada tahap empat. Perubahan bentuk ini menghasilkan versi contoh
dan
bentuk
keseluruhan
dari
hasil
rekayasa-ulang dan mekanisme perubahan secara terus-menerus. Untuk
dapat mencapai tujuan tersebut maka pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu,
seperti: Kapankah waktu untuk memulai pemantauan suatu perkembangan. Bagaimana caranya untuk
dapat mengetahui perkembangan itu sesuai
dengan arah yang diharapkan. Mekanisme apa yang akan dibentuk guna mengantisipasi masalah yang muncul. Bagaimana caranya
memastikan perkembangan
perubahan berjalan secara lancar.
Teknik apa yang digunakan
untuk menyetel kembali organisasi.
Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Perusahaan
Melakukan Rekayasa Ulang Bisnis Prosesnya
Sejarah mencatat bahwa
tidak semua rekayasa ulang perusahaan berhasil baik, bisa juga gagal. Michael
Hammer dan James Champy dalam bukunya “Reengineering The Corporation: A
Manifesto For Business Revolution” terbitan Gramedia mendaftar berbagai alasan
mengapa banyak perusahaan gagal dalam melakukan rekasaya ulang bisnis
prosesnya, yaitu:
·
Tidak menitikberatkan rekayasa ulang pada proses-proses bisnis.
·
Mencoba memperbaiki proses bukan merubahnya.
·
Mengabaikan semua hal kecuali perancangan ulang bisnis proses.
·
Menolak nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan orang sebagai
masukan dalam perancangan ulang bisnis proses
·
Puas dengan hanya memperoleh hasil-hasil kecil dan berhenti
berusaha mencapai hasil yang lebih besar
·
Begitu cepat menyerah dalam menghadapi hambatan dalam
implementasinya
·
Terlebih dulu menetapkan batasan-batasan definisi masalah dan
jangkauan usaha rekayasa ulang.
·
Membiarkan budaya-budaya lama dan sikap manajemen yang ada untuk
mencegah rekayasa ulang sejak awal mulanya.
·
Berusaha melaksanakan rekayasa ulang dari bawah ke atas, dimana
seharusnya level paling atas adalah level yang harus sangat concern dan
mendukung terhadap rekayasa ulang
·
Menunjuk seseorang yang tidak mengerti rekayasa ulang untuk
memimpin upaya tersebut.
·
Gagal membedakan antara rekayasa ulang dengan program-program
peningkatan bisnis lain.
·
Setengah-setengah dalam menyediakan sumber daya untuk rekayasa
ulang, karena sesungguhnya factor sumber daya adalah yang terpenting dalam
melakukan rekayasan ulang
·
Mengukur rekayasa ulang ditengah agenda perusahaan.
·
Menghambur-hamburkan energi tanpa perhitungan yang jelas untuk
sejumlah besar proyek rekayasa ulang.
·
Mengusahakan rekayasa ulang saat CEO kurang dua tahun lagi
pensiun.
·
Secara ekslusif berkonsentrasi pada perancangan.
·
Berusaha melakukan rekayasa ulang tanpa menyakiti hati siapapun.
·
Mundur jika orang-orang menolak melakukan rekayasa ulang.
·
Mengulur-ulur pelaksanaan rekayasa ulang, mulai dari rencana
hingga
No comments:
Post a Comment